Negara Mana Pemenangnya?

IBTSekitar 170 mahasiswa memenuhi kantin SBM ITB, Kamis (28/1) sore. Mereka duduk berkelompok, sibuk menggaris dan menggunting kertas. Lantas, sibuk pula saling tawar. Ada apa gerangan?

Ternyata itu adalah sesi perkuliahan International Business and Trade yang dipandu dosennya, Budi Permadi Iskandar, serta tutor Andreas Kurniawan, Mia T.D. Indriani, Enjang Dana Resi, Rosy Sjarif, dan Adhi Yudho Wibowo.

“Tiap mahasiswa harus memahami bahwa dalam bisnis dan pedagangan internasional, tiap negara memiliki perbedaan sumberdaya, baik itu alam, manusia, maupun uang. Oleh karenanya, perlu adanya suatu diferensiasi, negosiasi, dan kerjasama. Cara yang efektif salah satunya lewat simulasi. Formatnya, permainan international trade simulation,” ujar Budi menjelaskan.

Konsep permainannya seperti permainan bisnis pada umumnya, tetapi dibuat ketidakmerataan antarkelompok. Tiap kelompok merepresentasikan negara. Mereka memiliki sumberdaya yang berbeda. Ada negara maju yang punya uang banyak, sedikit sumberdaya alam dan manusia. Ada negara berkembang yang punya lumayan banyak uang, lumayan banyak sumberdaya alam dan manusia. Ada juga negara miskin yang tidak punya banyak uang, tapi memiliki sumberdaya alam dan manusia yang berlimpah. Sumberdaya di sini direpresentasikan dengan kertas.

Begitu dimulai, mereka dilepas untuk bersaing menjadi yang terbaik. Dan untuk menciptakan game lebih menarik, tiap beberapa menit dibuatlah event yang idenya menimbulkan ketidakpastian dalam permainan ini sehingga tidak monoton: ditemukannya material baru, tsunami, krisis ekonomi, dll yang mengharuskan fluktuasi sumberdaya dan kerjasama di masing-masing negara. Dengan begitu, negara miskin belum tentu kalah dari negara berkembang atau kaya.

Nah, menurut Anda, negara manakah yang menjadi pemenangnya?

Tutor Andreas Kurniawan bertutur, “Ada dua kategori. Pertama, negara dengan inisiatif paling tinggi. Kelompok 8 yang memerankan negara miskin, yang memenanginya. Mereka aktif meminjam kertas dan penggaris, barter, dan berbagai negosiasi. Mereka bahkan memiliki orang khusus untuk urusan hubungan antarnegara.”

Kategori kedua, negara dengan keuntungan paling besar. Ternyata diraih kelompok 3 yang memerankan negara berkembang. “Uniknya, negara tersebut itu menutup diri. Mereka hanya sibuk dengan efisiensi produk dan jual. Tidak ada negosiasi dengan negara lain. Seperti Republik Rakyat Cina beberapa dekade lalu yang tertutup dari dunia luar,” kata Andreas.***

IBTSekitar 170 mahasiswa memenuhi kantin SBM ITB, Kamis (28/1) sore. Mereka duduk berkelompok, sibuk menggaris dan menggunting kertas. Lantas, sibuk pula saling tawar. Ada apa gerangan?

Ternyata itu adalah sesi perkuliahan International Business and Trade yang dipandu dosennya, Budi Permadi Iskandar, serta tutor Andreas Kurniawan, Mia T.D. Indriani, Enjang Dana Resi, Rosy Sjarif, dan Adhi Yudho Wibowo.

“Tiap mahasiswa harus memahami bahwa dalam bisnis dan pedagangan internasional, tiap negara memiliki perbedaan sumberdaya, baik itu alam, manusia, maupun uang. Oleh karenanya, perlu adanya suatu diferensiasi, negosiasi, dan kerjasama. Cara yang efektif salah satunya lewat simulasi. Formatnya, permainan international trade simulation,” ujar Budi menjelaskan.

Konsep permainannya seperti permainan bisnis pada umumnya, tetapi dibuat ketidakmerataan antarkelompok. Tiap kelompok merepresentasikan negara. Mereka memiliki sumberdaya yang berbeda. Ada negara maju yang punya uang banyak, sedikit sumberdaya alam dan manusia. Ada negara berkembang yang punya lumayan banyak uang, lumayan banyak sumberdaya alam dan manusia. Ada juga negara miskin yang tidak punya banyak uang, tapi memiliki sumberdaya alam dan manusia yang berlimpah. Sumberdaya di sini direpresentasikan dengan kertas.

Begitu dimulai, mereka dilepas untuk bersaing menjadi yang terbaik. Dan untuk menciptakan game lebih menarik, tiap beberapa menit dibuatlah event yang idenya menimbulkan ketidakpastian dalam permainan ini sehingga tidak monoton: ditemukannya material baru, tsunami, krisis ekonomi, dll yang mengharuskan fluktuasi sumberdaya dan kerjasama di masing-masing negara. Dengan begitu, negara miskin belum tentu kalah dari negara berkembang atau kaya.

Nah, menurut Anda, negara manakah yang menjadi pemenangnya?

Tutor Andreas Kurniawan bertutur, “Ada dua kategori. Pertama, negara dengan inisiatif paling tinggi. Kelompok 8 yang memerankan negara miskin, yang memenanginya. Mereka aktif meminjam kertas dan penggaris, barter, dan berbagai negosiasi. Mereka bahkan memiliki orang khusus untuk urusan hubungan antarnegara.”

Kategori kedua, negara dengan keuntungan paling besar. Ternyata diraih kelompok 3 yang memerankan negara berkembang. “Uniknya, negara tersebut itu menutup diri. Mereka hanya sibuk dengan efisiensi produk dan jual. Tidak ada negosiasi dengan negara lain. Seperti Republik Rakyat Cina beberapa dekade lalu yang tertutup dari dunia luar,” kata Andreas.***