Miliki Pengalaman Bisnis Sejak Kuliah dengan IBE di SBM ITB

IBE 2011Salah satu mata kuliah yang berbeda yang diadakan SBM ITB adalah Integrative Business Experience (IBE). Matakuliah ini mengintegrasikan beberapa ilmu yang sudah mahasiswa pelajari sebelumnya seperti Marketing, Entrepreneurship, Operation, Finance, dlsb. IBE memberikan para mahasiswa peluang untuk menciptakan, merencanakan, dan mengelola sebuah bentuk usaha nyata.Mata kuliah ini dipelajari selama 2 semester, Â IBE 1 di tahun kedua semester 1 dan IBE 2 di semester berikutnya.IBE 2011Salah satu mata kuliah yang berbeda yang diadakan SBM ITB adalah Integrative Business Experience (IBE). Matakuliah ini mengintegrasikan beberapa ilmu yang sudah mahasiswa pelajari sebelumnya seperti Marketing, Entrepreneurship, Operation, Finance, dlsb. IBE memberikan para mahasiswa peluang untuk menciptakan, merencanakan, dan mengelola sebuah bentuk usaha nyata.Mata kuliah ini dipelajari selama 2 semester, Â IBE 1 di tahun kedua semester 1 dan IBE 2 di semester berikutnya.

Pada IBE 1mahasiswa akan mendapatkan pengalaman mengumpulkan informasidan menggunakannya sebagai alat pentukung keputusan. Mahasiswa dikelompokkan menjadi sebuah tim besar (kira-kira 30Â orang) agar menyerupai sebuah perusahaan.Di kelompok ini, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan menangani konflik dalam tim dan mampu bekerja sama di dalamnya. Secara spesifik, tujuan IBE 1 adalah mahasiswa ini mampu membuat rencana bisnis berupa dokumen Business Plan yang matang, untuk selanjutnya diimplementasikan di IBE 2, semester berikutnya.IBE 2011 a

SBM ITB juga menggandeng CIMB Niaga sebagai partner dalam penyedia modal di mata kuliah IBE ini. Mahasiswa diikutkan dalam proses peminjaman uang ke lembaga keuangan, “Mereka belajar melengkapi paperworks seperti KTP orang tua dan menaati terms and condition yang banyak dan nggak mudah” Jelas Bayuningrat Hardjakaprabon, MBA., yang sudah menutori mata kuliah IBE selama dua tahun. Selain memberikan kucuran dana, pihak Bank juga dilibatkan dalam progress pengembangan rencana bisnis. Seringkali mereka memberi masukan mengenai strategi-strategi yang dibuat oleh para mahasiswa.

Dalam perkembangannya, semakin lama produk yang dijual oleh mahasiswa semakin inovatif, “karena ada persyaratan barang yang dijual oleh kakak kelas tidak boleh dijual lagi” jelas Bayu. Jenis produk atau jasa yang ditawarkan juga ridak sembaranga, harus jelas nilai tambahnya. Produknya mungkin boleh sederhana namun dibuat nilai tambah yang berarti sehingga bisa dijual ekseklusif.

Selain berkembang dari sisi jenis produk, kurikulum juga terus dimodifikasi menjadi lebih baik. Tahun ini misalnya, IBE harus melibatkan pihak dari luar SBM, bisa jadi program studi lain di ITB. “Sebenarnya di tahun-tahun sebelumnya ada, tapi atas keinginan sendiri dan belum diwajibkan” Dengan adanya ketentuan ini, diharapkan para mahasiswa memiliki pengalaman yang lebih dalam dari segi bisnis dan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain yang berbeda kompetensi.

Yang unik dari mata kuliah ini, adalah pembelajaran yang didapat tidak selalu sama tiap mahasiswa. “Kalau di mata kuliah lain, silabusnya sudah jelas, parameter nilai juga jelas berdasarkan ujian. Di IBE, kita sama-sama nggak tahu apa yang terjadi di akhir semester”. Tiap kelompok usaha dengan pilihan produk yang dipilih, dan orang-orang yang terlibat didalamnya memiliki pengalaman yang beragam. Konflik yang terjadi di suatu kelompok usaha terasa sangat nyata, “bahkan pernah ada yang harus bikin divisi HRD, untuk khusus menangani konflik di company-nya” terang bayu.

IBE 2011 cAda penghargaan Best Company di akhir semester, “tidak selalu perusahaan yang dapat profit paling besar yang dinobatkan sebagai Best Company”, kata Bayu. Beberapa parameter yang menentukan sebuah usaha dinobatkan menjadi Best Company antara lain kemampuan menjual, kebaikan birokrasi dalam perusahaan, kemampuan mengenali masalah dan menyelesaikannya dan serta pelaporan yang baik. Untuk nilai per-individu selain laporan tertulis, diadakan pula sistem Peer Evaluation. Di sistem ini seorang individu dinilai kompetensinya oleh rekan-rekan sesamanya.

Tantangan ke depan bagi IBE adalah bagaimana menyempurnakan kurikulumnya secara berkelanjutan agar mahasiswa mendapatkan pengalaman yang lebih dalam di bidang bisnis. “Kita ada wacana untuk membuat mekanisme untuk mengelola perusahaan-perusahaan ini setelah mata kuliah ini selesai.” Selama ini, memang belum ada mekanisme khusus tentang pengelolaan perusahaan setelah mata kuliah IBE ini selesai. Yang pasti, mahasiswa tidak boleh meninggalkan inventory, hutang, atau tanggungan apapun di akhir semester. Yang boleh hanya berbentuk uang kas. Profit akan digunakan untuk program Community Service di mata kuliah semester berikutnya. “Karena ini institusi akademis, maka mahasiswa memang tidak mendapatkan uang sepeserpun dari kegiatan bisnis ini” terang Bayu.

Tantangan berikutnya adalah going export. “Potensi untuk mahasiswa di sini untuk menjajakan produk jasanya untuk export itu ada banget”, jelas Bayu. Dan dari pihak Tutor sangat mendukung. *** (ikazain)IBE 2011 d

Pada IBE 1mahasiswa akan mendapatkan pengalaman mengumpulkan informasidan menggunakannya sebagai alat pentukung keputusan. Mahasiswa dikelompokkan menjadi sebuah tim besar (kira-kira 30Â orang) agar menyerupai sebuah perusahaan.Di kelompok ini, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan menangani konflik dalam tim dan mampu bekerja sama di dalamnya. Secara spesifik, tujuan IBE 1 adalah mahasiswa ini mampu membuat rencana bisnis berupa dokumen Business Plan yang matang, untuk selanjutnya diimplementasikan di IBE 2, semester berikutnya.IBE 2011 a

SBM ITB juga menggandeng CIMB Niaga sebagai partner dalam penyedia modal di mata kuliah IBE ini. Mahasiswa diikutkan dalam proses peminjaman uang ke lembaga keuangan, “Mereka belajar melengkapi paperworks seperti KTP orang tua dan menaati terms and condition yang banyak dan nggak mudah” Jelas Bayuningrat Hardjakaprabon, MBA., yang sudah menutori mata kuliah IBE selama dua tahun. Selain memberikan kucuran dana, pihak Bank juga dilibatkan dalam progress pengembangan rencana bisnis. Seringkali mereka memberi masukan mengenai strategi-strategi yang dibuat oleh para mahasiswa.

Dalam perkembangannya, semakin lama produk yang dijual oleh mahasiswa semakin inovatif, “karena ada persyaratan barang yang dijual oleh kakak kelas tidak boleh dijual lagi” jelas Bayu. Jenis produk atau jasa yang ditawarkan juga ridak sembaranga, harus jelas nilai tambahnya. Produknya mungkin boleh sederhana namun dibuat nilai tambah yang berarti sehingga bisa dijual ekseklusif.

Selain berkembang dari sisi jenis produk, kurikulum juga terus dimodifikasi menjadi lebih baik. Tahun ini misalnya, IBE harus melibatkan pihak dari luar SBM, bisa jadi program studi lain di ITB. “Sebenarnya di tahun-tahun sebelumnya ada, tapi atas keinginan sendiri dan belum diwajibkan” Dengan adanya ketentuan ini, diharapkan para mahasiswa memiliki pengalaman yang lebih dalam dari segi bisnis dan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain yang berbeda kompetensi.

Yang unik dari mata kuliah ini, adalah pembelajaran yang didapat tidak selalu sama tiap mahasiswa. “Kalau di mata kuliah lain, silabusnya sudah jelas, parameter nilai juga jelas berdasarkan ujian. Di IBE, kita sama-sama nggak tahu apa yang terjadi di akhir semester”. Tiap kelompok usaha dengan pilihan produk yang dipilih, dan orang-orang yang terlibat didalamnya memiliki pengalaman yang beragam. Konflik yang terjadi di suatu kelompok usaha terasa sangat nyata, “bahkan pernah ada yang harus bikin divisi HRD, untuk khusus menangani konflik di company-nya” terang bayu.

IBE 2011 cAda penghargaan Best Company di akhir semester, “tidak selalu perusahaan yang dapat profit paling besar yang dinobatkan sebagai Best Company”, kata Bayu. Beberapa parameter yang menentukan sebuah usaha dinobatkan menjadi Best Company antara lain kemampuan menjual, kebaikan birokrasi dalam perusahaan, kemampuan mengenali masalah dan menyelesaikannya dan serta pelaporan yang baik. Untuk nilai per-individu selain laporan tertulis, diadakan pula sistem Peer Evaluation. Di sistem ini seorang individu dinilai kompetensinya oleh rekan-rekan sesamanya.

Tantangan ke depan bagi IBE adalah bagaimana menyempurnakan kurikulumnya secara berkelanjutan agar mahasiswa mendapatkan pengalaman yang lebih dalam di bidang bisnis. “Kita ada wacana untuk membuat mekanisme untuk mengelola perusahaan-perusahaan ini setelah mata kuliah ini selesai.” Selama ini, memang belum ada mekanisme khusus tentang pengelolaan perusahaan setelah mata kuliah IBE ini selesai. Yang pasti, mahasiswa tidak boleh meninggalkan inventory, hutang, atau tanggungan apapun di akhir semester. Yang boleh hanya berbentuk uang kas. Profit akan digunakan untuk program Community Service di mata kuliah semester berikutnya. “Karena ini institusi akademis, maka mahasiswa memang tidak mendapatkan uang sepeserpun dari kegiatan bisnis ini” terang Bayu.

Tantangan berikutnya adalah going export. “Potensi untuk mahasiswa di sini untuk menjajakan produk jasanya untuk export itu ada banget”, jelas Bayu. Dan dari pihak Tutor sangat mendukung. *** (ikazain)IBE 2011 d