Agent-based Simulation Model Shows the World Oil Production Hits its Peak in 2025 while Gas Climbs to its Top in 2040

The projection was stated by Dr. Vlasios Voudouris in his lecturing sessions at SBM-ITB both Jakarta and Bandung campuses early this month. Moderatored by Prof. Utomo Sarjono Putro and Dr. Yos Sunitiyoso, Dr. Voudouris demonstrated on how the agent-based simulation & scenario had promoted policy makers to formulate the appropriate strategies. Through a computer simulation, the performance of policy scenario is evaluated by considering thousands’ combinations of conditions that will occur. This action would certainly promote energy efficiency, as well as, minimize cost production and damage.

Demikian proyeksi yang disampaikan Dr. Vlasios Voudouris pada Kuliah Umum di SBM ITB, baik di Kampus Bandung maupun Jakarta. Dalam sesinya, Dr. Vlasios melakukan demonstrasi tentang bagaimana simulasi dan skenario agent-based digunakan para pembuat kebijakan dalam membangun strategi jitu. Melalui simulasi computer, skenario kebijakan dievaluasi dengan memperhitungkan seluruh kemungkinan yang akan terjadi. Diharapkan, langkah ini akan mendorong efisiensi energi serta mengurangi biaya produksi dan kerusakan lingkungan.

Briefly about Dr. Vlasios Voudouris. He serves as a researcher at STORM Center (Statistic Operational Research and Mathematics). He creates modeling and simulation on how to find potential energy in the world. As a CEO and founder of ABM Analytics Ltd, a company that provides oil & energy advisory, his interest is to perform a research to assist government, business and civil society in exploring their strategic option in this uncertain world. As he continued the lecture, he presented ACEGES (Agent-based Computational Economics of the Global Energy System) simulation model, to the participants. ACEGES is an agent-based simulation models aiming to assist energy policies making by using computer experimentation.

“One of the outputs is the projection of world oil production. Within the current condition, the model predicted that the world cheap oil production would reach its peak in 2025. After that, the world oil production will decline so drastically. In 2050, it is more likely that only one-third remain of its peak production. At that time, only the heavy oil with expensive production cost that is available. Indonesia in particular, will lose all of her export capacity. This means that oil produced in Indonesia will only be sufficient to meet the domestic demand, and there is also a possibility of import in large quantities,”said the Decision Making lecturer at London Metro Business School (LMBS).

In contrast to oil production. “ACEGES models projected that natural gas production in Indonesia, with the current policy, would reach its peak in 2040. Although the natural gas production will decline afterwards, but the decrease tends to be more gradual than oil if you have the right policies. By considering these projections, we could formulate the appropriate policies to reduce the dependency on oil and to wisely use natural gas,”as he stated.

Sekilas tentang Dr. Vlasios Voudouris. Peneliti STORM Center (Statistik Riset Operasional dan Matematika) ini, menciptakan pemodelan dan simulasi tentang cara untuk menemukan energi potensial di dunia. Sebagai CEO dan pendiri ABM Analytics Ltd, sebuah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi seputar isu minyak & energi, Dr Voudouris kerap membantu pemerintah, pebisnis dan masyarakat dalam memberikan opsi terbaik di tengah ketidakpastian (ekonomi) dunia. Lebih lanjut, dalam kuliahnya di Jakarta dan Bandung, Dr. Vlasios mencontohkan salah satu model simulasi ACEGES (Agent-based Computational Economics of the Global Energy System). Dengan system komputerisasi, ACEGES umumnya digunakan dalam membantu perumusan kebijakan untuk masalah energi.

“Salah satu outputnya adalah tentang produksi minyak dunia. Diproyeksikan, produksi minyak dunia akan mencapai puncaknya pada tahun 2025. Setelah itu, produksi minyak dunia akan menurun drastis. Kemudian, pada tahun 2050, hanya sepertiga dari produksi yang akan tersisa. Dan pada saat itu, hanya minyak berat dengan biaya produksi mahal saja, yang akan tersedia. Indonesia pada khususnya, akan kehilangan semua kapasitas ekspor-nya. Ini berarti bahwa minyak yang diproduksi di Indonesia hanya akan cukup untuk memenuhi permintaan domestik, dan ada juga kemungkinan impor dalam jumlah besar, “kata dosen untuk mata kuliah Decision Making London Metro Business School (LMBS).

Namun, simulasi menunjukkan hal yang berbeda pada produksi gas alam. ?Dengan kebijakan saat ini, Model ACEGES memproyeksikan bahwa produksi gas alam di Indonesia akan mencapai puncaknya pada 2040. Meskipun produksi gas alam akan menurun setelah itu, namun penurunan tersebut cenderung lebih bertahap daripada minyak jika Anda memiliki kebijakan yang tepat. Dengan mempertimbangkan proyeksi ini, kita bisa merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan bijaksana menggunakan gas alam, “ujar Dr. Vlasios.