Dalam rangka menyambut hari ulang tahun Pancasila 1 Juni 2022, SBM ITB dan Coventry University (UK) meluncurkan skema inovatif Doktoral dual-award (double-degree). Mahasiswa S3 dari program studi Doctor of Science in Management (DSM) yang terdaftar melalui skema ini, jika lulus, akan berhak mendapat dua gelar doktor dari ITB dan Coventry.

Peluncuran program inovatif ini tidak lain karena dukungan sepenuhnya dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memungkinkan mahasiswa Indonesia mendapatkan pengalaman riset di kampus luar negeri. Dengan MBKM, kredit matakuliah yang diambil di luar negeri bisa ditransfer ke universitas di Indonesia, sehingga menghemat waktu studi.

Program ini juga dirancang sebagai tindak lanjut dari inisiasi riset bersama UKICIS (UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences), dimana Coventry dan ITB adalah dua dari tujuh anggota pendirinya. Selain itu, skema ini adalah salah satu bukti nyata kerjasama riset dan pendidikan berkelanjutan, yang dituangkan di nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh ITB dan Coventry di tahun 2019.

Dual-award sudah banyak dilakukan oleh universitas di Indonesia dengan universitas luar negeri, khususnya di level S1 dan S2. Namun program dual-award ITB-Coventry ini bisa dikatakan yang pertama di Indonesia yang dilakukan di level S3 (doktor).

Yuliani Dwi Lestari selaku ketua program studi MSM-DSM SBM ITB menegaskan bahwa peluncuran program ini selaras dengan tujuan program studi DSM, yakni mencetak lulusan dengan kompetensi riset yang unggul, berkelas internasional dan berdampak terhadap dunia. Dengan skema dual-award ini, mahasiswa bisa memilih untuk memulai studinya dari ITB atau Coventry. Jika mulai dari ITB, maka pada tahun pertama, mahasiswa akan mengikuti pembelajaran sesuai kurikulum di ITB, lalu tahun kedua mahasiswa tersebut akan berangkat ke Coventry untuk melakukan pembelajaran di Coventry. Di tahun ketiga, mahasiswa menyelesaikan studi S3 nya di ITB. Sebaliknya, jika mulai dari Coventry, maka pembelajaran/penelitian di tahun pertama dan ketiga akan dilakukan di Coventry, dan tahun kedua, mahasiswa Coventry akan melakukan penelitiannya di ITB.

Dimanapun mahasiswa memulai studinya, baik di ITB maupun Coventry, mereka akan tetap mendapatkan pengalaman dan manfaat lebih dengan terdaftar di dua universitas, dibandingkan jika mereka hanya terdaftar di satu universitas saja. Mahasiswa akan bisa mengakses fasilitas pendidikan, perpustakaan, jurnal ilmiah, laboratorium, di ITB dan Coventry. Mereka juga akan dibimbing oleh promotor dari kedua universitas, sehingga bisa memanfaatkan keunggulan akademis dan reputasi internasional mereka.

Prof. Benny Tjahjono selaku pimpinan program dari Coventry menegaskan bahwa skema inovatif ini menunjukkan bukti nyata kerjasama antara Coventry dan ITB yang sudah dibangun sejak lama, baik melalui usaha bilateral maupun melalui konsorsium UKICIS. Sebagai world-class university, Coventry University bangga bisa menggandeng SBM ITB, yang menduduki peringkat world class university dari Indonesia.

Keuntungan lain yang didapat dari program ini dari sisi institusi adalah:

  1. Adanya pengakuan kesetaraan antara perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri
  2. Mata kuliah yang diambil bisa ditransfer ke universitas masing-masing dan disetarakan
  3. Pengembangan kualitas dosen promotor dengan berperan sebagai co-author dalam setiap publikasi yang dibuat oleh mahasiswa.
  4. Meningkatkan kerjasama riset antar kedua universitas sesuai yang dituangkan dalam MoU bilateral dan wadah UKICIS.

Kedepannya, program dual-award ini akan dibuka lebih luas untuk semua jurusan di ITB dan Coventry. Sebagai pilot project di tahun 2022 ini, ITB akan diwakili oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) sedangkan Coventry diwakili oleh Research Centre for Business in Society (CBiS) dan Centre for Financial and Corporate Integrity (CFCI), dua research centre di Coventry yang berafiliasi dengan Coventry Business School.

Akan ada dua proyek yang ditawarkan kepada mahasiswa intake September 2022. Proyek 1 bertajuk “Transitioning to Circular Supply Chains: A Multi-level Perspective Approach” yang menitikberatkan pada transisi menuju ekonomi sirkular, dengan menerapkan konsep teori transisi dan teori Multilevel-perspective untuk menggambarkan apa saja yang diperlukan untuk menuju rantai pasokan sirkuler.

Proyek 2 bertajuk “Sustainable funds: greenwishing or greenwashing” yang melihat fenomena bagaimana investor di negara maju yang ingin membuat investasi mereka bertanggung jawab secara sosial, namun pada kenyataannya sering kali menemui banyak hambatan.

Prosedur seleksi dan detail pendaftaran selengkapnya bisa dilihat di tautan berikut:

https://www.coventry.ac.uk/research/research-opportunities/research-students/research-studentships/transitioning-to-circular-supply-chains-a-multi-level-perspective-approach/

 

– Media Relations –