Wawasan

Meningkatnya Masalah Barang Palsu di Pasar Barang Mewah

Juli 18, 2023

“Membeli barang palsu secara online kini lebih mudah dari sebelumnya”

Apakah menghabiskan $2,500 untuk barang bermerek buatan China terlihat cerdas ketika Anda bisa mendapatkan versi palsu buatan China (mungkin dari pemasok perusahaan bermerek) yang tampilannya hampir sama?

Salah satu penyebab maraknya pemalsuan adalah kemudahan akses ke barang-barang ini secara daring. Namun, masalah utama yang dihadapi sektor barang mewah terhadap pemalsuan bukanlah memerangi pemalsu, melainkan menemukan kembali apa yang membuat merek-merek tersebut hebat sejak awal.

 Apa Itu Barang Palsu?

Produk palsu disebut sebagai salinan langsung dari produk asli lain dari merek yang berharga, mulai dari desain dan gaya hingga kemasan dan logo, tetapi umumnya kualitasnya lebih rendah sehingga membuat konsumen mengira bahwa mereka membeli produk bermerek asli.

 Hal ini terjadi karena langkah-langkah terbaru yang diambil oleh merek-merek mewah itu sendiri

Merek papan atas telah menaikkan harga secara drastis dalam dua tahun terakhir, yang secara efektif menyingkirkan pelanggan kelas menengah yang sebelumnya mungkin mempertimbangkan untuk berbelanja secara royal pada tas Chanel atau Louis Vuitton asli.

-

Seiring dengan semakin banyaknya merek mewah yang memindahkan produksi dari Eropa ke Asia, hal ini turut memicu keyakinan bahwa "tiruan" yang mereka beli sebenarnya dibuat oleh pabrik yang sama yang membuat produk untuk merek ternama.

 Saat ini, total perdagangan barang palsu diperkirakan mencapai sekitar $4.5 triliun, dan barang mewah palsu menyumbang 60% hingga 70% dari jumlah tersebut, melampaui produk farmasi dan hiburan. Digital memainkan peran besar dalam hal ini, dan mungkin 40% penjualan barang mewah palsu terjadi secara daring.

 Apa konsekuensinya bagi industri mewah?

Produk palsu ini merugikan perusahaan hingga jutaan, bahkan miliaran dolar setiap tahunnya dan dapat berdampak buruk pada citra merek mereka. Lebih lanjut, produk palsu tidak hanya menjadi sumber ketidakpuasan bagi pelanggan yang tertipu untuk membeli barang palsu berkualitas rendah, tetapi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan yang serius karena produk-produk ini tidak selalu mematuhi peraturan yang berlaku.

 Bagaimana Merek Melawan?

Pada tahun 2021, LVMH, Prada, dan Cartier, pemilik Richemont, bermitra dalam Aura Blockchain Consortium, sebuah solusi blockchain yang menawarkan akses informasi tentang rantai pasokan produk dan bukti kepemilikan yang aman bagi pembeli. RealReal juga mengoperasikan program pengenalan gambar berbasis pembelajaran mesin bernama Vision yang memungkinkan proses autentikasinya menjadi lebih otomatis.

 Namun, tidak ada alat yang sempurna. Para pemalsu juga terus-menerus menyesuaikan metode mereka. Salah satu skema yang umum adalah membeli produk asli di toko swalayan dan mengembalikan produk tiruan.

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan perusahaan?

Melampaui Logo

Logo mudah ditiru, tetapi pengerjaan yang baik tidak. Agar produk palsu kurang menarik bagi konsumen, perusahaan-perusahaan mewah perlu menekankan gaya dan kualitas yang sulit ditiru dan tidak bergantung pada logo. Menekankan pengerjaan tradisional, komponen buatan tangan, dan teknik warisan merupakan cara ampuh untuk menanamkan keaslian pada sebuah merek.

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan merek-merek mewah untuk meningkatkan upaya mereka dalam melindungi merek mereka dari pemalsu?


Referensi

Group, P. (2022). Diambil dari https://www.paragon-id.com/en/inspiration/luxury-products-and-counterfeiting-challenges-and-solutions

Chen, C. (18 Oktober 2022). Business of Fashion. Diakses dari https://www.businessoffashion.com/articles/luxury/fashion-counterfeit-problem-authentication-technology/

Group, S. (6 Mei 2022). Diambil dari https://stefanini.com/en/insights/news/economic-impact-of-counterfeit-products-for-luxury-brands

Roberto Fontana, SJ (24 Mei 2019). Harvard Business Review. Diakses dari https://hbr.org/2019/05/how-luxury-brands-can-beat-counterfeiters

Kontributor: Progressio Consulting Group (Gaby dan Zaki)

Kegiatan