Berita

Keberhasilan perampingan organisasi bergantung pada pola pikir strategis.

2 Maret, 2026

Pengurangan jumlah karyawan dalam organisasi sering dipahami sebagai upaya untuk mencapai efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja. Namun, pendekatan ini dianggap terlalu sempit. Keberhasilan perampingan organisasi bergantung pada perubahan perspektif organisasi terhadap manajemen sumber daya manusia.

Kesimpulan ini muncul selama diskusi panel kedua dari HCM Talks ke-5, yang diselenggarakan oleh SBM ITB, di Jakarta (27 Februari).

Forum yang bertema “Menavigasi Masa Depan Sumber Daya Manusia: Penyederhanaan Bisnis dan Organisasi melalui Lean HR dan Analisis SDM” ini menampilkan Yuni Ros Bangun, seorang anggota Kelompok Keahlian Manajemen Sumber Daya Manusia dan Pengetahuan SBM ITB; Fahmi El Mubarak, CEO dari BUMN School of Excellence; dan Sari Indah Damayanti, Wakil Presiden Eksekutif Strategi Sumber Daya Manusia di PT PLN (Persero). Harry Fabriansyah, seorang dosen di SBM ITB, bertindak sebagai moderator diskusi. 

Yuni Ros Bangun membuka diskusi dengan membahas tantangan terkait produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Ia mencatat bahwa pertumbuhan produktivitas tenaga kerja di Indonesia sekitar 2.6 persen, yang tertinggal dibandingkan beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Kondisi ini juga tercermin dalam kinerja beberapa BUMN, yang masih berada di bawah kinerja BUMN di negara lain. Menurut Yuni, situasi ini menjadikan transformasi organisasi sebagai kebutuhan mendesak. Namun, ia menekankan bahwa pengurangan jumlah karyawan bukanlah solusi utama untuk efisiensi.

“Penyederhanaan harus diarahkan pada pengembangan budaya berkinerja tinggi. SDM perlu diposisikan secara strategis untuk mendorong peningkatan keterampilan, produktivitas, dan pemanfaatan bakat yang optimal,” katanya.

Sari Indah Damayanti, seorang praktisi, berbagi pengalamannya dalam mentransformasi fungsi sumber daya manusia di PLN. Ia mencatat bahwa PLN awalnya menerapkan pendekatan sumber daya manusia yang terdesentralisasi dari tahun 2021 hingga 2025. Namun, model ini kemudian direvisi menjadi model sumber daya manusia yang terpusat yang menekankan peningkatan produktivitas organisasi.

“Sebelumnya, pendekatan sumber daya manusia masih tradisional, berfokus pada administrasi dan menanggapi kebutuhan bisnis jangka pendek,” kata Sari.

PLN kini sedang mengembangkan konsep modal manusia masa depan yang lebih berorientasi pada pengembangan kemampuan dan penciptaan nilai bagi organisasi. Transformasi ini didukung oleh analitik SDM, otomatisasi proses, dan kecerdasan buatan yang terintegrasi ke dalam ekosistem teknologi modal manusia PLN. Pendekatan ini memungkinkan fungsi SDM untuk bergeser dari peran administratif menjadi mitra strategis yang berkontribusi langsung pada kinerja perusahaan.

Sementara itu, Fahmi El Mubarak percaya bahwa tantangan terbesar bukanlah terletak pada terminologi yang digunakan dalam manajemen SDM. Ia percaya bahwa yang jauh lebih penting adalah bagaimana organisasi benar-benar memperlakukan orang sebagai penggerak utama kinerja perusahaan.

“Saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan terminologi, apakah itu modal manusia, pengalaman manusia, atau orang dan budaya. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana memposisikan orang sebagai penggerak utama organisasi,” katanya.

Fahmi lebih lanjut menjelaskan bahwa pendekatan Strategic Lean HR didasarkan pada empat prinsip utama: keselarasan dengan strategi bisnis, integrasi manusia dan teknologi dalam proses kerja, penggunaan data dan wawasan secara proaktif, dan kemampuan untuk membangun organisasi masa depan yang berpusat pada manusia, proses, dan teknologi.

Sebagai penutup diskusi, Harry Fabriansyah menekankan bahwa modal manusia akan menjadi semakin penting dalam menentukan kinerja organisasi di masa depan. Dengan dukungan teknologi digital dan kecerdasan buatan, SDM diharapkan tidak lagi hanya berperan sebagai administrasi, tetapi menjadi penggerak utama keunggulan kompetitif dan keberlanjutan bisnis.

Ditulis oleh Reporter Mahasiswa (Hansen Marciano, Manajemen 2025)

Kegiatan