Berita

Tanpa pendekatan berbasis data, keputusan bisnis memiliki risiko tinggi.

2 Maret, 2026

Penggunaan teknologi dan analisis data menjadi semakin penting untuk mengelola organisasi modern. Tanpa pendekatan berbasis data, keputusan bisnis dapat dipengaruhi oleh subjektivitas dan informasi yang tidak lengkap. 

Topik ini menjadi fokus diskusi panel ketiga pada HCM Talks ke-5, yang diselenggarakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), pada 27 Februari 2026, di Jakarta. Forum yang bertema “Menavigasi Masa Depan Sumber Daya Manusia: Penyederhanaan Bisnis dan Organisasi melalui Lean HR dan Analisis SDM,” mengeksplorasi bagaimana adopsi teknologi dan analisis SDM dapat membantu perusahaan mengoptimalkan operasional dan menyederhanakan organisasi mereka.

Diskusi tersebut menghadirkan Jemy V. Confido, Wakil Presiden Senior Grup Transformasi Korporat di Lembaga Penelitian Telekomunikasi dan Digital Indonesia (ITDRI), dan Nurlaela Arief, Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat di Institut Teknologi Bandung. Acara ini dimoderatori oleh Achmad Ghazali.

Dalam presentasinya, Jemy Confido menekankan bahwa perusahaan teknologi global seperti NVIDIA, Alphabet, dan Microsoft memprioritaskan keunggulan operasional sebagai dasar untuk mengelola data dan sumber daya manusia. Ia mencatat bahwa penggunaan teknologi digital tidak secara otomatis mengarah pada keputusan bisnis yang lebih baik.

“Alat-alat seperti CRM dan berbagai platform digital hanya akan berharga jika disertai dengan keunggulan operasional, sehingga data dapat diubah menjadi keputusan bisnis yang berkualitas,” katanya.

Ia juga menekankan risiko kesalahan dalam manajemen talenta, seperti kesalahan alfa dan beta, yang terjadi ketika individu yang berpotensi tidak ditempatkan pada posisi yang tepat. Menurut Jemy, mengandalkan sepenuhnya pada alat penilaian saja tidak cukup jika konteks organisasi dan karakteristik talenta tidak dipahami. Tanpa pendekatan yang tepat, perusahaan dapat menghadapi berbagai masalah, termasuk perekrutan yang tidak sesuai, penurunan motivasi karyawan, dan perkembangan lingkungan kerja yang tidak sehat.

Untuk mengatasi tantangan ini, ia menekankan pentingnya mesin talenta berbasis data yang menggabungkan pengambilan keputusan berbasis data, otomatisasi proses, efisiensi biaya talenta, dan perlindungan data pribadi. Dengan dasbor digital, para pemimpin perusahaan dapat dengan cepat dan objektif memetakan kemampuan di seluruh organisasi. Pendekatan ini mengubah proses yang sebelumnya manual dan subjektif menjadi proses yang lebih terintegrasi dan efisien.

Sementara itu, Nurlaela Arief menekankan bahwa data dan teknologi saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan transformasi organisasi. Menurutnya, kepercayaan adalah faktor penting dalam memastikan kebijakan berbasis data diterima oleh semua pemangku kepentingan.

“Data sangat penting untuk pengambilan keputusan. Namun, tanpa kepercayaan, keputusan-keputusan tersebut akan dipertanyakan, dan proses transformasi akan lebih lambat,” katanya.

Dalam proses merampingkan operasional bisnis, Nurlaela menyoroti tiga elemen kunci yang harus difokuskan oleh para pemimpin organisasi untuk membangun kepercayaan dalam sumber daya manusia. Elemen pertama adalah legitimasi, yang mengacu pada mandat dan alasan yang jelas untuk perubahan yang dilakukan. Elemen kedua adalah efikasi, yang melibatkan keyakinan bahwa transformasi tersebut diimplementasikan dengan niat dan tujuan yang tepat. Elemen ketiga adalah kepercayaan, yang bertindak sebagai jembatan antara legitimasi dan efikasi.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang efektif dalam sebuah organisasi. Peran juru bicara tidak selalu harus formal. Peran tersebut dapat dimainkan oleh siapa saja yang memiliki kredibilitas dan dipercaya di lingkungan kerja mereka. Menurut Nurlaela, efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk disukai, kredibilitas, daya tarik, dan kesesuaian individu yang menyampaikan pesan. Sebagai contoh, ia menyebut Purbaya Yudhi Sadewa, yang dianggap mampu membangun komunikasi persuasif yang telah mendapatkan kepercayaan publik.

Para panelis sepakat bahwa komunikasi merupakan fondasi penting dalam proses transformasi organisasi. Kepercayaan yang dibangun melalui komunikasi yang jelas dan transparan akan memperkuat legitimasi kebijakan dan meningkatkan efektivitas implementasi perubahan. Dengan pendekatan ini, diharapkan transformasi organisasi dan perampingan organisasi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Ditulis oleh Reporter Mahasiswa (Hansen Marciano, Manajemen 2025)

Kegiatan