Euforia seputar pendanaan startup yang mencapai puncaknya pada tahun 2021 kini telah berakhir. Sebelumnya, startup dapat dengan mudah datang dengan pitch deck dan spreadsheet untuk mendapatkan investasi, tetapi sekarang situasinya jauh lebih ketat. Jumlah putaran pendanaan di Indonesia telah turun drastis dari sekitar 385 menjadi hanya 69 pada tahun 2025.
Bagi sebagian pelaku industri, situasi ini tampak seperti kemunduran. Namun, bagi Novrizal Pratama, Managing Director Tech in Asia Indonesia dan Ketua Asosiasi Alumni SBM ITB (2024–2027), situasi ini justru menandai fase kematangan bagi ekosistem startup.
Ia menyampaikan hal ini pada seminar Greater Hub SBM ITB XX bertema “Tren Baru yang Perlu Diketahui Para Pendiri” di Bandung, 5 Maret 2026.
Menurut Novrizal, era uang mudah telah berakhir. Ekosistem startup Indonesia memang tampak besar, dengan sekitar 32,000 startup aktif, 14 unicorn, dan total pendanaan yang terkumpul mencapai US$71 miliar. Namun, di balik angka-angka tersebut, banyak startup berkembang pesat karena hype dan valuasi yang tidak selalu mencerminkan ekonomi unit yang sehat.
“Ketidakkonsistenan valuasi, tata kelola yang lemah, dan bahkan gelombang PHK ketika pertumbuhan melambat adalah konsekuensinya,” katanya.
Investor kini melakukan uji tuntas yang jauh lebih ketat. Menurut Novrizal, situasi ini menawarkan peluang bagi perusahaan rintisan dengan fondasi bisnis yang kuat dan orientasi keberlanjutan.
Ia juga memperingatkan bahwa besarnya pasar Indonesia tidak secara otomatis menjamin keuntungan. Unit ekonomi per pengguna relatif rendah, sehingga para pendiri yang hanya mengandalkan ukuran populasi tanpa mempertimbangkan daya beli dan biaya akuisisi pelanggan berisiko membangun bisnis di atas fondasi yang goyah.
Dalam presentasinya, Novrizal juga mengidentifikasi lima tren yang akan membentuk gelombang startup berikutnya.
Pertama, tim kecil dengan dampak besar. Perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan, memungkinkan perusahaan rintisan untuk beroperasi lebih efisien dengan tim yang ramping.
Kedua, AI sebagai infrastruktur bisnis. Pada tahun 2026, sekitar 80 persen aplikasi perusahaan diproyeksikan akan menyertakan agen AI bawaan. Menurut Novrizal, tidak menggunakan AI saat ini seperti menghitung inventaris dengan kertas di era Excel.
Ketiga, solusi lokal. Banyak masalah di Indonesia, misalnya, rantai pasokan perikanan, membutuhkan pemahaman tentang konteks lokal yang tidak dimiliki oleh para pemain global.
Keempat, profitabilitas adalah indikator kunci. Investor kini lebih fokus pada ketahanan bisnis daripada sekadar pertumbuhan pengguna.
Kelima, ekonomi hijau dan prioritas nasional, di mana perusahaan rintisan berpotensi berkembang jika mereka mengatasi tantangan lingkungan atau mendukung agenda pembangunan pemerintah.
Menurut Novrizal, di balik tren ini terdapat pergeseran pola pikir mendasar: perusahaan rintisan tidak lagi dibangun untuk mengejar pendanaan, tetapi untuk bertahan hidup.
Tata kelola yang baik sejak awal, sistem akuntansi yang bersih, dan keputusan bisnis yang terdokumentasi merupakan fondasi penting untuk menarik kepercayaan investor.
Ia mendorong para pendiri untuk mengatasi masalah nyata di tingkat lokal. Indonesia menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidaksetaraan ekonomi dan inefisiensi rantai pasokan, yang juga menghadirkan peluang untuk inovasi.
“Tidak setiap startup harus menjadi unicorn. Solusi hiper-lokal seringkali lebih relevan,” katanya.
Novrizal mengakhiri pesannya dengan pengingat kepada para pendiri: peluang untuk memulai bisnis masih tersedia. Namun, peluang tersebut harus didekati dengan kedewasaan yang lebih besar.
Waktu terbaik untuk memulai startup adalah tahun 2015. Waktu terbaik kedua adalah sekarang, dan itu harus dilakukan dengan cara yang lebih cerdas.

