Bagi Atik Aprianingsih, memimpin di lingkungan akademis seperti universitas membutuhkan keseimbangan yang cermat. Di satu sisi, ia harus teguh menjunjung standar ketat untuk kualitas penelitian. Di sisi lain, ia perlu fleksibel dan terhubung dengan mahasiswa secara personal untuk menumbuhkan "momen aha", yaitu saat-saat pencerahan ketika situasi kompleks akhirnya terselesaikan.
Sebagai Kepala Program Magister dan Doktor Ilmu Manajemen (MSM dan DSM) di SBM ITB, gaya kepemimpinan Atik berakar kuat pada awal kariernya di bidang penjaminan mutu industri. Pengalamannya dalam memastikan ketepatan suku cadang di pabrik kini telah berkembang menjadi pendekatan menyeluruh dalam mengaudit keunggulan akademik.
Di kalangan komunitas kampus, Atik dikenal sering bercanda tentang julukan tidak resminya: "Sang Kolektor." Julukan itu muncul dari pengalamannya selama bertahun-tahun memastikan bahwa baik dosen maupun mahasiswa menindaklanjuti komitmen penelitian mereka.
“Sejak 2015, tugas harian saya adalah mengejar para dosen dan mengingatkan mereka untuk menyerahkan hasil penelitian mereka. Sekarang, 'target pengumpulan' saya telah bergeser ke mahasiswa,” katanya sambil tertawa ketika diwawancarai di kampus SBM ITB Bandung (18/2).
Namun di balik humor tersebut, terdapat misi penting: untuk memastikan bahwa SBM ITB terus berdiri sebagai lembaga penelitian yang disegani di panggung internasional.
Latar belakang pendidikan Atik unik untuk seorang pemimpin sekolah bisnis. Ia lulus dengan gelar Teknik Elektro dari Universitas Brawijaya. Pengalamannya di divisi Pengendalian Mutu Masuk di sebuah pabrik membentuk pemikiran sistemiknya.
Ada satu cerita yang selalu terngiang di benaknya: sebuah peraturan keselamatan pabrik yang mengharuskan pekerja menggunakan kedua tangan saat mengoperasikan mesin pres. Ketika peraturan ini dilanggar demi kecepatan, kecelakaan kerja pun segera terjadi.
“Aturan itu ada alasannya, tetapi jika kita tidak menjelaskan 'mengapa' aturan itu ada, orang cenderung menolaknya,” kenang Atik.
Ia menerapkan filosofi ini ke dunia akademis, khususnya saat mengkoordinasikan akreditasi internasional AACSB. Baginya, sebuah kampus bukan hanya sekumpulan individu, tetapi sebuah sistem lengkap yang harus berfungsi secara harmonis.
Dengan gelar DBA di bidang Studi Organisasi, Atik memiliki integritas akademik yang tinggi. Pengalamannya sebagai Managing Editor untuk jurnal AJTM dan Mantek, serta perannya sebagai reviewer terakreditasi untuk Sinta, memberinya kemampuan untuk mendeteksi jurnal predator.
Dia sangat teliti dalam membimbing mahasiswa doktoral (DSM) melalui labirin publikasi global.
“Terkadang sebuah jurnal terlihat rapi di atas kertas, tetapi jika mereka dapat menerbitkan 50 artikel dalam satu edisi, itu adalah tanda bahaya,” tegasnya.
Bagi Atik, publikasi bukan hanya persyaratan administratif untuk kelulusan, tetapi juga cerminan integritas pribadi dan reputasi global sekolah.
Fokus utama Atik sebagai Kepala Program Studi adalah memastikan mahasiswa lulus tepat waktu. Ia sangat menyadari bahwa, terutama dalam program doktoral dengan kontak tatap muka yang minim, godaan untuk menunda-nunda sangat besar. Itulah mengapa ia memperketat sistem supervisi dua kali setiap semester untuk memastikan mahasiswa tidak kehilangan arah dan momentum.
Meskipun dikenal sebagai "auditor yang ketat," hati Atik selalu melunak ketika menyangkut pembimbingan mahasiswa. Dari semua pilar Tridharma Pendidikan Tinggi, pembimbingan adalah bagian yang paling ia sukai.
“Saya sangat menikmati sesi diskusi empat mata dengan siswa,” akunya dengan tulus. “Melihat siswa akhirnya memahami konsep-konsep kompleks setelah diskusi panjang, di situlah saya menemukan makna terdalam dalam pekerjaan saya.”