Tim peneliti dari Kelompok Riset Risiko Bisnis dan Keuangan di Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), menyelenggarakan Diskusi Kelompok Fokus (FGD) pada hari Kamis, 21 Mei 2026, di Hotel Cianjur, Cipanas, Kabupaten Cianjur, untuk membahas strategi pemulihan pasca bencana bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pendekatan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Inisiatif ini merupakan bagian dari agenda penelitian berkelanjutan yang bertujuan untuk menghasilkan keluaran akademis dan rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan di kawasan tersebut.
Diskusi kelompok terfokus (FGD) ini mempertemukan para pemangku kepentingan yang mewakili akademisi, lembaga pemerintah, bisnis lokal, dan organisasi sosial. Lembaga yang berpartisipasi meliputi tim peneliti dari SBM ITB, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda/Baperida) Kabupaten Cianjur, Kantor Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Industri Kabupaten Cianjur, Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Cianjur, Kantor Kelurahan Cugenang, Pemerintah Desa Sukamulia di Kecamatan Cugenang, perwakilan UMKM lokal, dan lembaga sosial dan filantropi yang terlibat dalam upaya pemulihan ekonomi, termasuk Dompet Dhuafa dan BAZNAS.
Diskusi tersebut menekankan bahwa paparan Indonesia terhadap risiko bencana memerlukan strategi pemulihan yang tidak hanya responsif tetapi juga adaptif dan berbasis bukti. Salah satu tujuan utama FGD adalah untuk mengidentifikasi dan memvalidasi variabel untuk mengembangkan kerangka kerja Agent-Based Modeling (ABM) guna memahami dinamika pemulihan UMKM dengan lebih baik dan mendukung desain kebijakan yang lebih efektif.
Para peserta menyoroti bahwa tantangan pascabencana meluas melampaui kerusakan fisik dan kekurangan modal. Lebih mendasar lagi, UMKM menghadapi kesulitan dalam memulihkan basis pelanggan, membangun kembali jaringan distribusi, dan mendapatkan kembali akses pasar. Temuan ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi membutuhkan pendekatan yang melampaui bantuan jangka pendek dan berfokus pada keberlanjutan jangka panjang.
Taufik Faturrohman, Kepala tim riset dari Grup Riset Risiko Bisnis dan Keuangan SBM ITB, menekankan bahwa pemulihan harus dipahami lebih dari sekadar bantuan langsung.
“Pemulihan UMKM pascabencana bukan hanya tentang mengganti modal atau peralatan. Sama pentingnya untuk memulihkan akses pasar, membangun kembali jaringan bisnis, dan menghubungkan kembali para pengusaha dengan pelanggan mereka.”
Salah satu topik utama yang muncul dari forum tersebut adalah peran strategis keuangan sosial dalam mempercepat pemulihan ekonomi. Instrumen seperti Zakat, Infaq, Sadaqah, Waqf (ZISWaf), program CSR, hibah, dan filantropi dianggap sangat berharga ketika diarahkan pada inisiatif produktif yang didukung oleh penilaian kebutuhan, pendampingan, penguatan pasar, dan pemantauan keberlanjutan.
“Pembiayaan sosial dapat menjadi instrumen strategis untuk mempercepat pemulihan pascabencana ketika dirancang untuk memperkuat kapasitas ekonomi jangka panjang, bukan hanya memberikan bantuan jangka pendek.”
Forum tersebut juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah, desa, organisasi sosial, universitas, dan UMKM untuk membangun ekosistem pemulihan yang lebih adaptif, terukur, dan berbasis data.
Sebagai tindak lanjut, tim peneliti akan menganalisis lebih lanjut temuan-temuan tersebut untuk mendukung publikasi akademis, mengembangkan kerangka kerja ABM, dan merumuskan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ketahanan ekonomi regional dalam konteks bencana di masa mendatang.

