Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang komunikasi, tanggung jawab sosial perusahaan, manajemen acara, hubungan media, dan kesekretariatan perusahaan, Kepala Komunikasi Korporat CIMB Niaga Bank, Hery Kurniawan, menghadirkan perspektif praktis tentang bagaimana komunikasi bekerja di dunia profesional. Ia percaya bahwa penting untuk memahami penerima pesan sebelum menentukan cara penyampaiannya.
“Sederhanakan, tetapi jangan murahan.” Komunikasi perlu disusun secara terfokus, memperhatikan pembukaan, isi, dan penutup, agar audiens menerima pesan dengan jelas, kata Hery saat memberikan kuliah tamu tentang Komunikasi Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) pada Selasa (11 Agustus).
Komunikasi bisnis memiliki cakupan yang luas. Seorang komunikator profesional perlu menyelaraskan strategi komunikasi dengan kebutuhan organisasi, membangun keterlibatan audiens, dan memastikan pesan tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman yang bermakna.
Hery kemudian menekankan pentingnya bercerita dalam komunikasi profesional. Komunikasi yang efektif perlu disampaikan dengan jelas, ringkas, dan sistematis, memastikan bahwa pesan memiliki logika yang jelas, bebas dari asumsi, dan menghindari jargon yang tidak perlu.
Selain komunikasi verbal, siswa juga didorong untuk menyadari kekuatan komunikasi nonverbal. Beberapa keterampilan penting untuk komunikasi profesional meliputi persiapan, kepekaan terhadap komunikasi nonverbal, intonasi vokal, mendengarkan aktif, dan kecerdasan emosional. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi bukan hanya tentang "apa" yang dikatakan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menampilkan diri, mendengarkan, membaca situasi, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Salah satu bagian yang menarik perhatian para mahasiswa adalah diskusi tentang penampilan profesional dan persiapan untuk sukses. Hery mendorong mahasiswa untuk memandang penampilan bukan hanya sebagai masalah estetika, tetapi juga sebagai bagian integral dari komunikasi profesional.
Penampilan adalah bagian dari kesan pertama yang dapat memengaruhi bagaimana seseorang dipersepsikan bahkan sebelum mereka mulai berbicara. Dalam konteks profesional, kesan pertama dibentuk oleh faktor-faktor seperti kepercayaan diri, keramahan, kesopanan, ketepatan waktu, perkenalan diri, bahasa tubuh, kemampuan mendengarkan, dan empati. Penampilan yang tepat dapat membantu membangun kepercayaan diri, membuat audiens merasa nyaman, dan menunjukkan representasi profesional seseorang sebagai bagian dari institusi mereka.
Hery juga membahas manajemen acara sebagai keterampilan penting bagi seorang komunikator profesional. Manajemen acara tidak hanya dipandang sebagai aspek teknis suatu kegiatan, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar bagaimana menyampaikan pesan secara akurat, teratur, estetis, dan hidup. Melalui manajemen acara, siswa dapat secara bersamaan mengembangkan keterampilan dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, kolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dalam sesi ini, siswa tidak hanya menerima pembelajaran konseptual tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung melalui Klinik Penampilan. Siswa menerima bimbingan tentang aspek-aspek penampilan profesional, mulai dari wajah, rambut, tangan dan kuku, tubuh, dan pakaian secara keseluruhan. Siswa juga didorong untuk mengevaluasi detail-detail sederhana yang mendukung penampilan profesional, seperti rambut dan fitur wajah yang terawat, pakaian yang bersih dan disetrika, serta aksesori yang rapi.
Aktivitas ini memberi siswa kesempatan untuk memahami bahwa pembelajaran komunikasi bisnis tidak berhenti di dalam kelas. Cara seseorang berbicara, mendengarkan, berperilaku, berpakaian, dan membawa diri semuanya saling terkait dalam membangun citra profesional.