Berita

Tantowi Yahya dan empat tahapan membangun reputasi

14 Agustus 2026

Sebagai figur publik dan profesional dengan pengalaman luas di bidang komunikasi, diplomasi, dan kepemimpinan, Tantowi Yahya memahami bagaimana reputasi seseorang terbentuk. Menurutnya, reputasi tidak terbentuk secara instan. Reputasi adalah hasil dari proses panjang yang dimulai dengan membangun citra, mengembangkan merek, mendapatkan kredibilitas, dan pada akhirnya mencapai reputasi yang berkembang seiring waktu.

Keempat elemen ini terbentuk melalui suatu proses. Citra adalah apa yang diproyeksikan seseorang. Merek adalah bagaimana proyeksi tersebut dikemas. Kredibilitas berkaitan dengan apakah orang lain mempercayai mereka. Reputasi, di sisi lain, adalah apa yang tersisa setelah semua ini telah dibangun dan terus dipertahankan secara konsisten.

“Jadi, reputasi adalah sesuatu yang Anda bangun, dimulai dari citra, merek, dan kredibilitas, hingga akhirnya Anda mencapai reputasi yang Anda inginkan,” kata Tantowi dalam kuliah tamu Komunikasi Bisnis bertema “Membangun Reputasi Global” di Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Bandung, pada Kamis (13 Agustus).

Menurut Tantowi, seseorang dapat mengendalikan citra yang mereka proyeksikan, tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya mengendalikan reputasi mereka. Reputasi sebenarnya terbentuk dari apa yang orang lain katakan ketika mereka tidak ada di ruangan. Oleh karena itu, reputasi harus dibangun melalui tindakan yang konsisten dan berulang.

Salah satu pesan utama Tantowi adalah bahwa komunikasi merupakan fondasi reputasi. Komunikasi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana hal itu dikatakan dan bagaimana perilaku mereka mencerminkan pesan tersebut.

“Komunikasi adalah fondasi dari reputasi apa pun yang Anda bangun. Jadi, segala sesuatu tentang reputasi bermuara pada bagaimana kita berkomunikasi, bukan hanya apa yang kita katakan. Komunikasi melibatkan bahasa tubuh, sikap, bagaimana kita membawa diri, dan sebagainya,” katanya.

Menurut Tantowi, segala sesuatu tentang reputasi pada akhirnya bergantung pada bagaimana seseorang berkomunikasi—apa yang Anda katakan, bagaimana Anda mengatakannya, dan apa yang Anda lakukan—dan apakah ketiganya selaras. Namun, reputasi dapat hancur ketika perkataan dan tindakan seseorang tidak selaras. Konsistensi bukan berarti seseorang tidak pernah membuat kesalahan, tetapi lebih kepada bagaimana seseorang menanggapi dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Dalam konteks global, keterampilan komunikasi juga perlu disertai dengan pemahaman tentang perbedaan budaya. Tantowi menjelaskan bahwa komunikasi lintas budaya mencakup berbagai aspek, mulai dari cara berkomunikasi secara langsung dan tidak langsung hingga tingkat formalitas dan hierarki, hingga pemahaman tentang waktu, ketepatan waktu, dan bahkan keheningan.

Selain komunikasi, Tantowi mendorong mahasiswa untuk mulai membangun kepemimpinan dan reputasi sejak masih kuliah, daripada menunggu hingga lulus atau memasuki dunia profesional.

“Kepemimpinan adalah sesuatu yang harus Anda peroleh ketika ada kesempatan di kampus, dan Anda bisa mengambilnya, jangan menunggu kesempatan itu diberikan kepada Anda,” kata Tantowi. “Kepemimpinan melibatkan inisiatif. Jika ada komite, aktiflah di dalamnya, maka rekan-rekan Anda akan mengenali Anda, dan di situlah reputasi dibangun.”

Tantowi menjelaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi atau gelar. Seorang pemimpin membangun reputasi melalui keputusan-keputusan kecil yang dibuat setiap hari. Integritas, empati, akuntabilitas, kompetensi, keandalan, hubungan dengan orang lain, dan konsistensi adalah beberapa elemen yang membentuk reputasi seorang pemimpin.

Sementara itu, dalam lingkungan yang semakin terhubung secara digital, reputasi seseorang dapat menyebar jauh lebih cepat daripada orang itu sendiri. Satu pengalaman positif atau negatif dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi persepsi orang lain.

Tantowi mengingatkan kita bahwa identitas seseorang di dunia digital dan perilakunya di dunia nyata pada akhirnya membentuk reputasi terpadu yang dapat dibaca oleh dunia. Kecepatan informasi seringkali melebihi kecepatan individu dalam mengoreksi informasi yang beredar.

Sebagai seseorang yang berpengalaman di bidang diplomasi, Tantowi menekankan bagaimana reputasi individu dapat berkontribusi pada reputasi suatu institusi dan bahkan suatu negara. Dalam menjalankan tugasnya sebagai duta besar, setiap pertemuan, jabat tangan, dan interaksi dengan pihak lain merupakan bagian dari proses diplomasi. Ia juga menekankan pentingnya diplomasi budaya, di mana musik, makanan, bahasa, dan pengalaman bersama dapat berfungsi sebagai pintu gerbang untuk membangun kepercayaan dalam hubungan internasional.

Ditulis oleh Reporter Mahasiswa (Lavena Laduri, MBA YP 2024)

Events