Berita

Konferensi Tingkat Tinggi Industri SBM ITB 2026 diakhiri dengan seruan untuk kolaborasi, inovasi, dan daya saing berkelanjutan.

24 Agustus 2026

KTT Industri SBM ITB 2026 menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat daya saing berkelanjutan Indonesia. Para peserta menekankan bahwa sumber daya, teknologi, dan infrastruktur negara harus disertai dengan kemampuan untuk mengubah ide menjadi tindakan nyata dan nilai ekonomi berkelanjutan.

Diselenggarakan bersamaan dengan ICMEM 2026, KTT ini mempertemukan para menteri, pembuat kebijakan, pemimpin industri, akademisi, praktisi, dan perwakilan dari berbagai lembaga. Dengan tema “Kekayaan Bangsa-Bangsa: Forum Internasional untuk Memperingati Warisan Intelektual Adam Smith,” KTT ini mengeksplorasi tantangan dan peluang Indonesia dari berbagai perspektif industri.

Diskusi mencakup beberapa sektor strategis, termasuk sumber daya alam dan energi, keuangan, properti, kewirausahaan, transportasi, industri kreatif, pariwisata, dan energi terbarukan. Terlepas dari karakteristiknya yang berbeda, sektor-sektor tersebut memiliki kebutuhan bersama untuk membangun ekosistem yang menghubungkan sumber daya, teknologi, modal, talenta, dan kebijakan.

Pada penutupan KTT, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D. menekankan pentingnya menggabungkan pengalaman praktis dan penyelidikan intelektual untuk mengembangkan solusi yang berdampak berarti.

“Pengalaman praktis membantu kita memahami apa yang berhasil di dunia nyata, sementara penyelidikan intelektual membantu kita meneliti mengapa hal itu berhasil, dalam kondisi apa, dan bagaimana hal itu dapat ditingkatkan,” kata Prof. Lavi.

Menurut Prof. Lavi, menggabungkan kedua perspektif ini sangat penting untuk memastikan bahwa ide-ide tidak hanya tetap berada pada tingkat konseptual, tetapi dapat diimplementasikan dalam praktik dan terus ditingkatkan untuk mengatasi tantangan yang terus berkembang.

Di sektor sumber daya alam, diskusi menyoroti perlunya menggeser fokus dari peningkatan produksi semata menuju penciptaan nilai yang lebih besar dan berkelanjutan. Industri pertambangan, minyak, dan gas didorong untuk memperkuat tata kelola, teknologi, pengolahan nilai tambah, ketelusuran, dan pengembangan talenta.

Transformasi juga menjadi tema utama di sektor keuangan. Pertumbuhan pembayaran digital, perbankan seluler, dan investasi ritel menciptakan peluang baru untuk inklusi keuangan. Namun, akses yang lebih besar harus disertai dengan literasi keuangan yang lebih kuat, perlindungan konsumen, pengembangan pasar modal, dan penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Di sektor properti, para peserta menyoroti pentingnya memandang kawasan perkotaan sebagai ekosistem terintegrasi, bukan sekadar kumpulan bangunan individual. Konektivitas, akses transportasi, kedekatan dengan pusat-pusat pekerjaan, efisiensi energi, dan pemanfaatan data akan semakin penting dalam mengembangkan tempat-tempat berkelanjutan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, diskusi tentang kewirausahaan menekankan pentingnya membangun bisnis adaptif dengan fondasi ekonomi yang sehat. Teknologi digital dapat berfungsi sebagai alat untuk menciptakan nilai, tetapi strategi bisnis harus tetap berlandaskan pemahaman tentang pasar dan kebutuhan pelanggan. Kolaborasi antara pemerintah, universitas, investor, bisnis, dan masyarakat juga penting untuk memperkuat ekosistem inovasi Indonesia.

Dalam bidang transportasi, tantangannya bukan lagi sekadar membangun infrastruktur baru, tetapi mengintegrasikan berbagai moda dan layanan ke dalam ekosistem yang terhubung. Data waktu nyata dan AI dapat mendukung efisiensi operasional, keselamatan, perencanaan rute, dan konektivitas jarak pertama dan terakhir.

Industri kreatif dan sektor pariwisata juga diidentifikasi sebagai peluang strategis bagi Indonesia. Para peserta mencatat bahwa daya saing tidak hanya bergantung pada produksi konten yang lebih banyak atau menarik lebih banyak pengunjung, tetapi juga pada kemampuan untuk mengembangkan cerita, kekayaan intelektual, dan pengalaman yang khas. Seiring dengan percepatan produksi konten oleh AI, kreativitas manusia dan penilaian strategis akan menjadi pembeda yang semakin penting.

Di bidang energi terbarukan, Indonesia memiliki potensi signifikan yang harus diterjemahkan menjadi proyek-proyek yang layak secara finansial dan mampu diimplementasikan dalam skala besar. Jaringan listrik yang lebih kuat, penyimpanan energi, pengadaan yang efisien, pengaturan pembelian yang kredibel, dan mekanisme pembagian risiko yang efektif akan sangat penting untuk mempercepat pengembangan energi surya, angin, tenaga air, dan panas bumi.

Dari berbagai diskusi, satu pesan muncul dengan jelas: daya saing Indonesia tidak dapat dibangun hanya oleh satu sektor saja. Sumber daya, infrastruktur, modal, teknologi, tata kelola, sumber daya manusia, inovasi, dan keberlanjutan harus disatukan melalui kolaborasi yang kuat.

Semangat ini mencerminkan landasan intelektual yang lebih luas dari KTT ini dan hubungannya dengan warisan Adam Smith. Di Indonesia saat ini, kemakmuran bukan hanya tentang melimpahnya sumber daya atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana lembaga, bisnis, akademisi, pemerintah, dan masyarakat mengubah sumber daya tersebut menjadi nilai yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Atas nama SBM ITB, Prof. Lavi Rizki Zuhal menyampaikan apresiasi kepada para menteri, pembicara, moderator, panelis, dan kontributor yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka sepanjang KTT tersebut. Beliau juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama dengan Universitas Glasgow, lembaga-lembaga yang berpartisipasi, mitra media, dan pendukung lainnya.

Dukungan dari para mitra, termasuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Medco, juga memberikan kontribusi signifikan terhadap keberhasilan pelaksanaan SBM ITB Industrial Summit 2026. Keterlibatan mereka mencerminkan pentingnya menyatukan perspektif akademis, pengalaman industri, dan kebijakan publik untuk mengatasi tantangan pembangunan yang kompleks di Indonesia.

Saat KTT berakhir, para peserta didorong untuk memastikan bahwa dialog berlanjut di luar acara dengan menerjemahkan wawasan, koneksi, dan komitmen ke dalam inisiatif konkret. Bagi SBM ITB, ini mewakili tujuan inti KTT: menyatukan kearifan praktis dan penyelidikan intelektual untuk membantu membangun Indonesia yang lebih kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan.

Ditulis oleh Ilma Aulia Zaim, Ph.D.

Events