Pemikiran Adam Smith tentang produktivitas, pembagian kerja, akumulasi modal, perdagangan, dan institusi tetap relevan untuk memahami kondisi ekonomi global saat ini. Menurut Prof. Soner Baskaya, Profesor Ekonomi di Adam Smith Business School, Universitas Glasgow, produktivitas adalah fondasi kekayaan suatu bangsa.
Namun, produktivitas bergantung pada kemampuan suatu negara untuk melakukan spesialisasi dan pembagian kerja, yang dipengaruhi oleh ukuran pasar, konektivitas ekonomi, dan lembaga-lembaga yang mendukung kegiatan produktif.
“Adam Smith selalu melihat produktivitas sebagai sumber kekayaan nasional,” kata Soner pada SBM ITB Industrial Summit 2026, yang diselenggarakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Glasgow di Jakarta, 19-20 Agustus 2026.
Forum yang bertema “Kekayaan Bangsa-Bangsa: Forum Internasional untuk Memperingati Warisan Intelektual Adam Smith” ini mempertemukan para akademisi, pemimpin industri, regulator, pembuat kebijakan, dan para profesional untuk membahas transformasi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Selain Soner, acara tersebut juga dihadiri oleh Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan di PT Pertamina (Persero), Anggito Abimanyu, Ketua Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), dan Prof. Deddy Priatmodjo Koesrindartoto, Kepala Kelompok Keahlian Risiko Bisnis dan Keuangan di SBM ITB.
Pemikiran Adam Smith menjadi landasan untuk membahas beberapa tantangan Indonesia, mulai dari produktivitas, investasi, transformasi energi, dan stabilitas keuangan hingga inklusivitas pertumbuhan. Relevansinya semakin meningkat mengingat dunia menghadapi fragmentasi perdagangan, ketegangan geopolitik, perubahan rantai pasokan, dan arus modal yang tidak pasti.
Menurut Soner, tantangannya bukan hanya mempertahankan keterbukaan ekonomi tetapi juga membangun kapasitas untuk menyerap guncangan. Ketahanan ekonomi, tegasnya, bukan berarti bebas dari guncangan tetapi memiliki kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi terhadapnya.
“Guncangan ada di sekitar kita; itu di luar kendali kita. Satu-satunya hal yang perlu kita pelajari adalah bagaimana hidup berdampingan dengan guncangan tersebut.”
Oleh karena itu, sistem keuangan berperan dalam memastikan aliran modal ke kegiatan produktif. Namun, Soner menekankan perlunya persaingan yang sehat dan regulasi yang memadai untuk mencegah ekspansi kredit menciptakan risiko yang berlebihan.
“Persaingan, tetapi bukan persaingan tanpa regulasi,” katanya.
Transformasi Energi dan Modal Produktif
Agung Wicaksono mengaitkan transformasi bisnis dan energi Pertamina dengan dua prinsip Adam Smith: pembentukan modal produktif dan spesialisasi produktif.
“Adam Smith memiliki prinsip utama tentang peningkatan produktivitas dan dua prinsip utama: pembentukan modal produktif dan spesialisasi produktif,” kata Agung.
Pertamina menerapkan hal ini dengan memperkuat bisnis intinya sekaligus mengembangkan bisnis energi masa depan. Selain mempertahankan bisnis minyak, kilang, dan ritel energi, perusahaan ini memperluas portofolionya ke energi panas bumi, energi surya, biofuel, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) dan penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS).
“Inilah masa depan yang akan kita kejar, membangun dan meningkatkan bisnis rendah karbon kita,” katanya.
Transformasi ini juga diarahkan pada hilirisasi dan ekonomi sirkular. Salah satu contohnya adalah pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) berbasis minyak goreng bekas. Pertamina sedang mengembangkan proyek percontohan untuk menghubungkan pengumpulan minyak goreng bekas dari Program Makanan Bergizi Gratis (Makan Bergizi GratisProgram dapur MBG (/MBG) untuk proses pengolahan bersama di Kilang Cilacap.
“Ini bukan hanya tentang hilirisasi, tetapi juga ekonomi sirkular,” kata Agung.
Pendekatan serupa juga dilakukan untuk memanfaatkan limbah perkotaan sebagai sumber energi. Menurut Agung, masalah lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi melalui inovasi dan pengembangan rantai nilai baru.
Pertumbuhan untuk Siapa?
Profesor Deddy Priatmodjo Koesrindartoto mengingatkan kita bahwa pemikiran Adam Smith tidak boleh ditafsirkan hanya melalui konsep pasar bebas dan tangan tak terlihat. Pemikirannya juga mencakup pendidikan, kepercayaan, struktur pasar, institusi, akses ke modal, dan distribusi kemakmuran.
Menurut Deddy, tantangan menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya mencapai target pertumbuhan atau meningkatkan produk domestik bruto, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat di semua wilayah dan tingkatan merasakan manfaatnya.
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: bukan hanya seberapa besar perekonomian Indonesia pada tahun 2045, tetapi siapa yang akan mendapat manfaat dari pertumbuhan tersebut.