Berita

ICMEM SBM ITB 2026 membahas masa depan bisnis berkelanjutan: dari kekuatan komunitas hingga produktivitas manusia.

26 Agustus 2026

Keberhasilan bisnis berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, inovasi, efisiensi, atau model bisnis baru. Pemahaman tentang budaya, komunitas, pengetahuan lokal, dan hubungan sosial di balik sumber daya juga menentukan keberlanjutan nilai ekonomi.

Profesor Haris Bin Abd Wahab dari Fakultas Seni dan Ilmu Sosial di Universitas Malaya mengatakan bahwa perusahaan perlu memperluas perspektif mereka tentang keberlanjutan. Teknologi yang baik belum tentu berdampak positif jika mengabaikan konteks sosial dan budaya masyarakat.

Haris menyampaikan pernyataan ini pada Konferensi Internasional tentang Manajemen di Pasar Berkembang (ICMEM) yang diselenggarakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), di Jakarta pada tanggal 19 Agustus 2026.

Ia mengutip perkembangan teknologi kompor bersih di Indonesia sebagai contoh. Meskipun secara teknis lebih unggul, penerimaannya tidak hanya bergantung pada kualitas teknologinya. Di beberapa komunitas, kompor lama merupakan bagian dari ruang keluarga dan tempat berkumpul, serta dikaitkan dengan cita rasa makanan dan praktik sosial tertentu.

Oleh karena itu, budaya tidak boleh dipandang sebagai isu yang sepele. Budaya memiliki konsekuensi ekonomi karena memengaruhi bagaimana kontrak dieksekusi, kepercayaan dan hubungan bisnis dibangun, serta konflik dan negosiasi diselesaikan.

Komunitas bukan sekadar sumber daya. Pengetahuan ekologi tradisional, misalnya, dapat memiliki nilai ekonomi. Komunitas dapat berperan sebagai mitra pengetahuan, mitra inovasi, dan pencipta nilai bersama.

Haris merumuskan tiga prinsip bagi bisnis yang ingin membangun hubungan berkelanjutan dengan masyarakat: memahami masyarakat sebelum menciptakan pasar, menghormati budaya sebelum mengekstraksi sumber daya, dan membangun hubungan sebelum mendirikan perusahaan.

Manusia di Tengah Kecerdasan Buatan

Sementara itu, Prof. Henndy Ginting dari SBM ITB menyatakan bahwa kemakmuran Indonesia di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, modal, atau kecanggihan teknologi. Sumber daya manusia yang produktif dan kepemimpinan yang mampu mengubah potensi menjadi kinerja dan nilai ekonomi semakin penting.

Menurut Henndy, manusia, pendidikan, kemampuan, dan produktivitas adalah sumber kekayaan yang strategis. Perhatian perlu dialihkan dari kekayaan di bawah tanah seperti minyak, batu bara, dan nikel ke kekayaan di atas tanah: manusia, pengetahuan, keterampilan, kesehatan, inovasi, dan literasi.

Menurutnya, produktivitas adalah hasil interaksi antara teknologi, kemampuan manusia, dan kemampuan organisasi. Kemampuan organisasi mencakup kepemimpinan, sistem, desain, dan budaya organisasi. Oleh karena itu, teknologi yang sama belum tentu menghasilkan produktivitas yang sama di setiap organisasi.

Kepemimpinan berperan dalam mengubah pengetahuan menjadi tindakan melalui umpan balik, pemberian contoh, praktik, pelatihan, penguatan, dan pengembangan kapasitas. Pengetahuan seseorang tidak secara otomatis diterjemahkan menjadi perilaku.

AI memang dapat meningkatkan kemampuan dalam pemrosesan pengetahuan, analisis, prediksi, otomatisasi, dan pembuatan konten. Namun, beberapa kemampuan manusia tetap sangat penting, seperti penilaian, kepercayaan, makna, dan tindakan kolektif.

Oleh karena itu, revolusi produktivitas tidak dapat hanya bergantung pada teknologi. Revolusi ini juga membutuhkan perubahan perilaku, pengembangan sumber daya manusia, dan kepemimpinan yang mampu mengarahkan teknologi untuk menghasilkan nilai.

Dalam konteks Indonesia menuju tahun 2045, Henndy percaya bahwa peningkatan produktivitas manusia dapat meningkatkan produktivitas organisasi dan daya saing nasional. Penguatan modal manusia, kemampuan tenaga kerja, kapasitas manajerial, tata kelola, dan pengembangan manusia sangat penting dalam proses ini.

Pada akhirnya, kepemimpinan berfungsi sebagai penghubung antara sumber daya dan kemakmuran: mengubah sumber daya menjadi nilai, pengetahuan menjadi tindakan, kemampuan menjadi produktivitas, dan potensi nasional menjadi kemakmuran.

ICMEM merupakan bagian dari Industrial Summit 2026, sebuah forum yang mempertemukan akademisi, praktisi bisnis, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan dan peluang bisnis dan manajemen di pasar negara berkembang. Industrial Summit 2026 diselenggarakan oleh SBM ITB bekerja sama dengan Universitas Glasgow, dengan dukungan dari Deposit Insurance Corporation (LPS) sebagai sponsor.

Ditulis oleh Reporter Mahasiswa (Lavena Laduri, MBA YP 2024)

Events