Berita

SBM ITB Industrial Summit 2026: menghubungkan pengetahuan, kebijakan, dan industri untuk masa depan ekonomi Indonesia

September 1, 2026

Daya saing tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan suatu negara untuk menghubungkan pengetahuan, kebijakan, teknologi, sumber daya manusia, dan kemampuan industri. Di tengah perubahan teknologi dan ekonomi global, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia bisnis menjadi semakin penting.

Perspektif ini menjadi inti dari SBM ITB Industrial Summit 2026, yang diselenggarakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dan Adam Smith Business School, Universitas Glasgow, di Jakarta pada tanggal 19–20 Agustus 2026.

Dengan tema “Kekayaan Bangsa-Bangsa: Forum Internasional untuk Memperingati Warisan Intelektual Adam Smith,” forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pemimpin industri, regulator, pembuat kebijakan, dan para profesional untuk membahas transformasi ekonomi dan daya saing industri Indonesia.

KTT tersebut menyoroti pentingnya ekosistem yang menghubungkan peran berbagai pihak. Lembaga akademik menghasilkan pengetahuan dan talenta, pemerintah memberikan arahan dan kepastian kebijakan, dan industri menerjemahkan ide dan teknologi menjadi kegiatan produktif dan nilai ekonomi.

Dari Pengetahuan ke Nilai Ekonomi

Salah satu tantangan transformasi ekonomi Indonesia adalah bagaimana memanfaatkan pengetahuan dan pendidikan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri.

Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., menekankan peran universitas yang terus berkembang dalam mengatasi tantangan ekonomi dan industri. Universitas bukan lagi sekadar tempat belajar, tetapi juga bagian dari ekosistem yang menghasilkan pengetahuan, mendorong inovasi, dan menawarkan solusi untuk masalah sosial dan industri.

Peran ini menjadi semakin penting seiring dengan pesatnya perubahan teknologi. Universitas perlu memahami perkembangan teknologi, mengantisipasi perubahan, dan mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan mampu menciptakan nilai.

Oleh karena itu, penelitian, pengembangan talenta, inovasi, dan kemampuan teknologi perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri dan prioritas ekonomi. Terlebih lagi, industri Indonesia menghadapi tekanan untuk meningkatkan produktivitas, mengadopsi teknologi baru, dan beralih ke aktivitas dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Menghubungkan Pengetahuan Global

Kolaborasi akademis internasional juga dapat memberikan akses ke perspektif dan pengetahuan baru di tengah tantangan global dalam teknologi, rantai pasokan, keberlanjutan, dan daya saing.

Dr. Xiang Li, Direktur Internasionalisasi di Universitas Glasgow, menekankan pentingnya internasionalisasi dalam memperluas jaringan akademik dan peluang kolaborasi.

Kolaborasi Glasgow-Bandung merupakan salah satu cara untuk menghubungkan prioritas ekonomi dan industri Indonesia dengan perspektif dan jaringan global. Bagi SBM ITB, kemitraan ini memperkuat peran universitas sebagai jembatan antara pengetahuan, bisnis, pemerintah, dan masyarakat.

Kebijakan dan Industri

Pengetahuan dan inovasi juga membutuhkan kebijakan yang memungkinkan industri untuk menerjemahkannya menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam pidato pembukaannya, menempatkan transformasi ekonomi dan daya saing industri sebagai prioritas Indonesia di tengah perubahan ekonomi global. Perkembangan teknologi, pergeseran rantai pasokan, dan meningkatnya persaingan antar negara mengharuskan Indonesia untuk terus memperkuat produktivitas dan daya saingnya.

Kemampuan industri untuk beradaptasi dan menciptakan nilai tambah akan semakin menentukan posisi Indonesia dalam ekonomi global. Hal ini tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga sumber daya manusia yang berkualitas, inovasi, penguasaan teknologi, dan kemampuan untuk menghasilkan produk dan jasa yang bernilai lebih tinggi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu menanggapi kebutuhan industri sekaligus memberikan kepastian untuk investasi dan inovasi jangka panjang. Universitas berkontribusi melalui penelitian, pengembangan bakat, pengetahuan, dan teknologi, sementara industri menerjemahkan wawasan ini ke dalam aplikasi praktis dan nilai ekonomi.

KTT Industri 2026 menyediakan tempat pertemuan bagi beragam perspektif ini. Regulator, pembuat kebijakan, akademisi, pemimpin bisnis, dan inovator mungkin memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi mereka saling melengkapi melalui dialog dan kolaborasi.

Pada akhirnya, transformasi ekonomi membutuhkan sebuah ekosistem, bukan aktor-aktor individual yang bekerja secara terisolasi.

Ditulis oleh Reporter Mahasiswa (Lavena Laduri, MBA YP 2024)

Events