Berita

Pentingnya prinsip bisnis berkelanjutan di era disrupsi digital

Desember 21, 2023

Menerapkan praktik bisnis berkelanjutan semakin penting di era disrupsi digital ini. Prinsip-prinsip keberlanjutan memastikan bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap kompetitif.

Untuk menjawab tantangan bisnis berkelanjutan di tengah disrupsi digital, SBM ITB berkolaborasi dengan Proyek Erji dan Nyampih menyelenggarakan seminar bertajuk “Sustainable Branding In the Digital Ecosystem: Smartwaste And Empowerment People As Alternative Branding In The Digital Era” di Fave Hotel Paskal Hyper Square, Bandung (28/12). Seminar ini bertujuan untuk memberdayakan berbagai UMKM di Indonesia. Pembicara utama antara lain Karin Winda Lestari, Pendiri dan CEO Nyampih Indonesia; Rio Garia Aprillio, Pendiri dan Direktur Proyek Erji; Dan Firdilla Qonita, CEO Suvenir Gula.

Satu Lokasi untuk Semua Masalah Sampah

Karin, alumni MBA SBM ITB, mendirikan Nyampih saat masih menjadi mahasiswa kewirausahaan dan telah memenangkan berbagai penghargaan selama menjalankan bisnisnya. Nyampih adalah startup yang didirikan oleh Karin dan teman-temannya karena kepedulian mereka terhadap peningkatan sampah di Indonesia, khususnya di wilayah Bandung.

Operasi mereka sudah berjalan di desa Gunung Gadung dan Gaenas, Kabupaten Sumedang, dan mereka berharap dapat memperluas dampak positifnya. Mereka bertujuan untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia melalui aplikasi ponsel untuk pengumpulan dan pengolahan sampah berkelanjutan.

"Bandung sudah tidak menerima lagi pembuangan sampah sembarangan. Karena itu, kita harus lebih peduli," kata Karin.

Dengan menggunakan Nyampih, seseorang dapat menjadwalkan tanggal dan waktu pengambilan sampah. Bekerja sama dengan Nyampih, organisasi pemuda setempat akan mengumpulkan dan menyimpan sampah sementara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah tersebut kemudian dibawa ke fasilitas terkait untuk diolah menjadi kompos organik, material, kemasan, furnitur, dan berbagai produk lain yang mendorong ekonomi sirkular. Ini adalah cara Nyampih membangun inisiatif untuk memilah dan membuang sampah dengan benar di lingkungan rumah tangga, sekaligus menginspirasi UMKM lokal untuk berpartisipasi dalam gerakan ini.

Kami terbuka untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan UMKM. Anda tinggal memilah sampahnya, sementara kami yang mengurus sisanya.

Kenangan Manis dan Ramah Lingkungan

Sementara itu, bisnis Suvenir Gula berawal di Kabupaten Bandung, sebuah daerah penghasil tekstil dan kain. Akibat ketidakmampuan pabrik-pabrik menampung semua pekerja, banyak orang tidak dapat memperoleh pekerjaan, sehingga meningkatkan pengangguran di daerah tersebut.

“Nilai-nilai yang kami bawa ada dua, yaitu pemberdayaan masyarakat dan lingkungan,” ujar Dilla. “Selain menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat, kami juga berupaya mengurangi sampah plastik. Mengapa? Karena plastik tersedia di mana-mana, dan proses pengolahannya pun mudah dari awal hingga akhir.”

Sugar Souvenir didirikan pada tahun 2016 dan memproduksi lebih dari 60 suvenir ramah lingkungan setiap bulannya. Lokakaryanya berlokasi di Desa Bojongmanggu, dengan lebih dari 20,000 produk jadi yang dikirim ke lebih dari 2,800 klien di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan bahkan Amerika.

Ciri khas bisnis Suvenir Gula adalah pendekatan sosial yang mereka gunakan. Mereka merekrut warga dan sangat inklusif dalam menyediakan lapangan kerja bagi para janda, lansia, dan penyandang disabilitas. Mereka juga menggunakan metode ramah lingkungan dalam menjalankan bisnis kerajinan ini, yang secara efektif mendaur ulang sampah plastik menjadi kenangan manis.

Pelajaran lain yang diajarkan Dilla adalah konsep pemasaran manusia. Selain menerapkan elemen keberlanjutan, mereka juga menampilkan orang-orang di balik Sugar Souvenir dalam konten mereka, meningkatkan nuansa autentik merek dan memperkuat rasa kedekatan dengan pelanggan.

“Tujuannya adalah untuk menciptakan suvenir yang disukai Bumi dan manusia.”

Semua Orang Bisa Membuat Konten

Rio memperkenalkan konsep pembuatan konten kepada UMKM, menekankan bahwa setiap orang dapat membuat konten.

“Mengunggah foto di media sosial, menulis teks untuk mempromosikan produk kepada teman-teman, itu semua konten,” kata Rio.

Rio menjelaskan berbagai teknik yang dapat digunakan untuk membuat konten yang sesuai untuk bisnis. Materi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari produksi video hingga penggunaan sudut kamera dan penambahan suara yang menarik untuk mendorong keterlibatan dalam penggunaan efek dalam penyuntingan video. Sebagai kreator, Rio juga memberikan contoh materi melalui konten yang telah ia buat.

Peserta dapat berinteraksi langsung dengan Karin, Dilla, dan Rio melalui forum diskusi grup. Mereka juga diundang ke obrolan grup setelah acara, di mana mereka dapat melanjutkan diskusi, saling belajar, dan membangun kolaborasi antar bisnis.

"Cukup bagus. Tujuan awal saya di sini adalah untuk belajar pemasaran digital. Ternyata saya mendapatkan banyak ilmu hari ini dan bisa menerapkannya kembali ke bisnis saya," ujar Farrell, seorang pemilik agen perjalanan yang berpartisipasi dalam lokakarya tersebut.

Bubun, seorang pemilik bisnis, juga mengaku banyak belajar selama mengikuti lokakarya tersebut. "Branding adalah topik yang wajib diperhatikan oleh para pemilik bisnis karena berkaitan dengan bagaimana orang lain memandang bisnis kita, sama seperti mereka memandang diri kita sendiri," ujar Bubun.

Ditulis oleh Reporter Mahasiswa (Abdurrafi Prayata Abidin, Manajemen 2024)

Kegiatan