Vent-I, inovasi ITB selama Pandemi Covid-19 yang berhasil dikomersialisasikan

source: www.rumahamal.org

Perguruan tinggi merupakan institusi yang sangat penting dalam menciptakan teknologi. Hal ini dikarenakan di dalam perguruan tinggi terdapat kepakaran mengenai IPTEK. 

Salah satu teknologi yang berhasil dikembangkan oleh dosen dan peneliti dari ITB dalam situasi Covid-19 adalah ventilator yang diberi nama Vent-I. Alat ini merupakan hasil riset dari peneliti ITB dengan bekerjasama dengan Rumah Amal Salman dan Fakultas Kedokteran Unpad. Vent-I berfungsi untuk membantu pernafasan bagi mereka yang kesulitan bernafas terutama bagi yang terdampak Covid-19. Meskipun proses pengembangannya tergolong singkat, Vent-I sudah lolos uji dan berhasil dikomersialisasikan. 

“Dalam situasi normal, alat ini biasanya dikembangkan selama 1-2 tahun. Namun kami mencari cara supaya alat ini bisa dikembangkan dalam 1-2 bulan,” ucap Sandro dalam kuliah umum bertajuk “Lesson Learned from Rapid Development of CPAP Ventilator Vent-I during COVID 19 Pandemic in Indonesia,” Selasa (13/4/2021). 

Dr. Sandro Mihradi, yang merupakan salah satu tim pengembangan Vent-I menjelaskan lebih lanjut mengenai Vent-I dalam mata kuliah Komersialisasi Teknologi, Sarjana Kewirausahaan. “Inisiatif membuat Vent-I datang dari Dr. Syarif Hidayat dimana menerima tantangan untuk membuat ventilator saat krisi virus Covid-19,” ucap dia.

Sandro melanjutkan, setelah adanya inisiatif dari Dr. Syarif Hidayat, ia kemudian mengajak seluruh staff di ITB, Rumah Amal Salman, alumni dan mahasiswa ITB, serta Dokter dari Unpad untuk bersama-sama mengembangkan Vent-I. 

“Hal krusial bagi kami untuk membuat sebuah produk adalah komitmen. Motivasi kami bukan untuk bisnis tetapi niat tulus kita untuk berkontribusi,” ucap Sandro yang juga merupakan dosen di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara tersebut. 

Ia menjelaskan, Vent-I memiliki jalan yang sangat panjang dalam proses pengembangannya. Vent-I harus melalui uji kegunaan, ketahanan, dan keselamatan di Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan (BPFK). Setelah proses uji tersebut, Vent-I selanjutnya melalui proses percobaan di rumah sakit serta mendapatkan lisensi CPAKB. Setelah melalui proses tersebut, Vent-I baru mendapat izin edar. 

Sandro menuturkan, pada akhir Juli 2020, sudah ada 1000 Vent-I yang didistribusikan di 277 rumah sakit di seluruh Indonesia. Selain itu, Vent-I juga bekerjasama dengan PT PHC dalam mengkomersialkan produk ini.

Written by Student Reporter (Deo Fernando, Entrepreneurship 2021)