Berkat Amartha, pengusaha perempuan di kampung bisa akses kredit

Image source: blog.amartha.com

Sebanyak 25 juta pengusaha perempuan belum terlayani dengan pinjaman modal. Pendapatan rendah dan minimnya akses mendapat kredit masih menjadi masalah besar di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Amartha memiliki misi untuk menghubungkan pengusaha perempuan tersebut dengan investor secara daring.

Amartha adalah perusahaan teknologi keuangan pinjaman peer-to-peer untuk membantu para pengusaha mikro mendapatkan akses kredit. Andi Taufan Garuda Putra, Founder Amartha berbagi perjalanannya mendirikan Amartha melalui kuliah tamu di kelas business development (pengembangan bisnis), sarjana kewirausahaan. “Secara ekonomi, Amartha sangat membantu (pengusaha perempuan), terutama di desa,” kata Andi Taufan, Rabu (14/4/2021).

Andi Taufan mengungkapkan bahwa perjalanan Amartha dimulai 11 tahun yang lalu saat ia mengunjungi beberapa desa dan menanyakan kepada masyarakat di sana tentang masalah mereka terkait keuangan dan kredit. “Amartha dimulai pada tahun 2010. Saat itu, saya berkeliling desa menanyakan kepada womenpreneurs berapa modal yang mereka butuhkan dan tujuannya untuk apa,” kata Andi.

Dari hasil observasi, ia menemukan banyak masyarakat di desa yang masih berpenghasilan rendah dan kesulitan dalam mendapatkan akses kredit untuk membiayai usahanya. Andi Taufan kemudian mendirikan Amartha yang bertujuan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah terutama di pedesaan untuk mendapatkan akses pendanaan. Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan usahanya dan dapat menyekolahkan anak mereka.

Namun, Andi mengatakan bahwa dalam 5 tahun pertama Amartha, ia menemui kesulitan karena hanya sedikit orang yang menanamkan uangnya di Amartha. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara pemberi pinjaman dan peminjam. Andi menegaskan, 5 tahun pertama ini merupakan masa yang penuh tantangan bagi Amartha.

“Tantangannya di awal Amartha, banyak dana yang dibutuhkan tapi hanya sedikit yang menginvestasikan uangnya di Amartha,” kata Andi yang juga alumni SBM ITB ini.

Pada 2015, Andi kemudian melanjutkan studinya di Harvard University sambil melanjutkan bisnis Amartha. Pada tahun 2016, Amartha berhasil mendapatkan dana awal sebesar USD 1 Juta. Amartha kemudian selalu mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahunnya. Pada tahun 2021, Amartha menjadi perusahaan sukses dengan memiliki lebih dari 645.000 peminjam dan telah mendistribusikan lebih dari Rp 3.4 triliun ke hampir 15.000 desa di seluruh Indonesia.

Dari perjalanannya ini, Andi mengatakan ada beberapa pembelajaran yang ia dapatkan dalam mendirikan Amartha. Pertama, perlu mencari co-founder dan investor yang tepat yang memiliki misi yang sama dengan misi perusahaan. Kedua, harus percaya pada bisnis yang didirikan sendiri meskipun banyak orang di sana yang meremehkan bisnis yang kita dirikan. Terakhir, sebagai wirausahawan, harus selalu mempersiapkan diri secara komprehensif.

Melalui presentasinya, Andi Taufan juga sangat memahami pentingnya bisnis yang mampu dengan dampak sosial. Jadi, selain mendirikan bisnis, kita juga bisa membantu sesama. “Semangat saya adalah bagaimana membuat bisnis yang juga bisa berdampak sosial,” kata Andi, yang juga merupakan mantan staf milenial Presiden Joko Widodo.

Written by Student Reporter (Deo Fernando, Entrepreneurship 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *