[Faculty Highlights] Difficulty in Sharing Economy

faculty highlights

Within three days, at least two clashes broke out in Bandung and Tangerang, between groups of online motorcycle taxi drivers and groups of city transportation drivers. These clashes caused injuries of people who are now in critical condition and the loss of time as well as the orderly and safe feeling in the community.

“Economic sharing” – that is the exchange of goods and services or rent-oriented resources on the basis of online operations – appears, first, because of the presence of internet networks and increasingly nomophobic people.

The nomophobic character is a symptom of dependence or addiction to a device that is quite acute and massive.
Dalam waktu tiga hari, terjadi sedikitnya dua bentrokan yang pecah di Bandung dan Tangerang, antara kelompok pengemudi ojek daring dan kelompok pengemudi angkutan kota. Bentrokan ini menyebabkan jatuhnya korban yang kini dalam kondisi kritis dan ruginya waktu serta hilangnya rasa tertib dan aman di masyarakat.
“Ekonomi berbagi” yakni pertukaran barang dan jasa atau sumber daya berorientasi rente dengan basis operasional daring muncul, pertama, karena hadirnya jaringan internet dan masyarakat yang semakin berwatak nomofobik. Watak nomofobik dimaksud adalah suatu gejala ketergantungan atau kecanduan terhadap gawai yang cukup akut dan masif.

Within four years since 2009, as the Ministry of Communication and Information Technology reported, the number of devices sold has reached 13 million. Meanwhile, the number of internet users has exceeded 50 percent of the population, and from that number the number of users has lost their access to desktops. This reality is difficult to prevent and anticipate.

Secondly, there is an interest in pursuing rents from From individuals as economic beings who act rationally so that economic actors share themselves and not the company.

The mode of sharing economy is actually easy, changing the old model in which individuals who previously acted solely as consumers became producers themselves and at the same time also became consumers. For example, drivers of various motorcycle taxis and car brands generally are common persons who can also become passengers.

Philosophically, what actually happens is that people exchange (share) their resources through devices, with other people who need them. 

In this context, companies disappear, and businesses experience deformalization or deformation, even delegalization. Suddenly, people do not need a business entity to run an online business and make a profit. In fact, they could have not been taxed if the country Does not closely monitor them.

Furthermore, People have multiple rolesThey can become office workers in the morning, then become stockbrokers between office hours, and become online transport drivers or residential renters such as AirBnB in the United States.

Thirdly, economic sharing emerges as a result of a rapid work revolution, which refers to the loss of distance and space between people or resource enthusiasts as demand with providers of resources in the conventional system becomes a source of profit for companies.

Difficulty of Sharing

There are several advantages and disadvantages of this economic process of sharing, both for the user and non-user communities, and for formal business actors themselves. For the community, for example, “economic sharing” provides speed and ease of process, besides being low-cost or inexpensive.

Only with a few touch screen devices or smart phones equipped with a global positioning system (GPS), people can access massage services, transfers, food orders, goods, and cleaning services.

In addition, the types of products are also extensive. Everyone in the community can find whatever items are sought from other members of the community, such as boarding houses, low-budget residences, villas, hotel or other residential orders, certain clothing designs, and many others.

In addition, for owners of service provider resources, the advantage of economic sharing is the efficient operation of infrastructure that is only based on the design platform or platform only and the Telecommunication operator operator.

The reason is that economic sharing service providers do not have to have assets such as used cars or motorbikes. They only borrow from the owners so that the efficiency of this cost structure will be enjoyed by the community in the form of increasingly affordable prices and perceived benefits.

However, this sharing trend has several disadvantages, such as inconsistency of product quality and difficulty to directly trust service providers or the problem of credibility. For conventional resource providers such as companies, their profits can decline dramatically because people can find their goods from the other side of the community as proposed by Ronald Coase (1991 Nobel Economics winner) in his theory about why the company stands to collapse.

Because of this, it was not surprising if the angkot driver went berserk, even though they also did the same to pedicab drivers or bemo in the past.

.

Online Trading Law

The 2015 Pricewaterhouse Coopers (PwC) survey in the United States is worth to consider. Its publication entitled “The Sharing Economy” indicates that as many as 72 percent of American consumers considered that the shared economic products they used were not consistent in terms of quality; online transportation users commonly complained about this aspect.

The complaints range from cleanliness to car brands that are different from the one registered in the application, or the driver’s personality and different driving methods because there is no standardization of personnel who are members of their own community. As many as 69 percent of the PwC respondents said that it is hard for them to believe for the first time before other users have used the product.

This is the weakness of the shared economy products that we have been promoting every day. Finally for developing countries with relatively low technological and institutional infrastructure, and a large population such as Indonesia, the presence of fast, massive and innovative sharing economy in terms of technology also creates some problems.

Resource providers as long-standing players are slow in innovation because what traditional drivers and angkot drivers actually fight is technology, not other motorcycle taxi drivers. The second is the lack of innovation culture because of Low experience in handling uncertainty. Third, the growing sense of injustice because these online transportation service providers have not been tax objects as the law has not regulated them.

The DPR should immediately propose the draft for online trade law in the national legislation program or amend the old trade law, namely Law Number 7 of 2014. However, if it is urgent, President Joko Widodo can issue government regulations (PP) or government regulation substitute for law (perppu) as ‘lex specialis’.

Contributor: Anggoro Budi Nugroho, Lecturer of SBM ITB
The printed version of this article was published in Kompas edition of March 15, 2017, on page 7 with the title “Difficulties in the Economy of Sharing”.


Dalam empat tahun sejak 2009, Kementerian Komunikasi dan Informatika melaporkan, jumlah gawai yang terjual mencapai 13 juta gawai. Sementara jumlah pengguna internet telah melebihi 50 persen dari jumlah penduduk dan dari angka itu jumlah pengguna mobile sudah mengalahkan desktop. Inilah kenyataan yang sulit dicegah dan lamban diantisipasi.
Selain itu, kedua, adanya minat memburu rente dari setiap individu masyarakat sebagai makhluk ekonomi yang bertindak rasional sehingga pelaku ekonomi berbagi sejatinya adalah mereka sendiri dan bukan perusahaan.
Adapun modus ekonomi berbagi sebetulnya mudah, yaitu mengubah model lama di mana individu yang sebelumnya berperan melulu sebagai konsumen, menjadi produsen itu sendiri dan sekaligus bisa pula menjadi konsumen. Seperti lazim kita jumpai, pengemudi berbagai merek layanan ojek dan mobil daring yang rata-rata adalah masyarakat yang suatu ketika juga bisa beralih menjadi penumpang.
Secara filosofis, yang sebenarnya terjadi adalah masyarakat saling bertukar (berbagi) sendiri sumber daya yang mereka miliki melalui gawai, dengan sebagian masyarakat lain yang membutuhkannya, dan juga sebaliknya.
Dan dalam konteks inilah, perusahaan akhirnya hilang, dan bisnis mengalami deformalisasi atau deformasi, bahkan delegalisasi. Sekonyong-konyong dalam jangka pendek orang dengan mudah tidak memerlukan badan usaha untuk menjalankan usaha berbasis daring dan meraup laba. Bahkan, ia bisa saja belum bertarik pajak jika negara tidak rajin mengawasi.
Lebih jauh, masyarakat kini juga berubah mampu memainkan multiperan. Mereka bisa menjadi seorang pekerja kantor di pagi hari lalu menjadi seorang pialang saham di sela-sela jam kantor, dan berlanjut menjadi pengemudi angkutan daring atau pemberi sewa hunian seperti AirBnB di Amerika Serikat.
Dan, ketiga, ekonomi berbagi muncul sebagai akibat dari terjadinya revolusi kerja yang cepat, yaitu hilangnya jarak dan ruang antara orang atau peminat sumber daya sebagai permintaan dengan penyedia sumber daya yang dalam sistem konvensional menjadi sumber profit bagi perusahaan.

Sulitnya Berbagi
Sesungguhnya ada beberapa keuntungan dan kerugian dari berjalannya proses ekonomi berbagi ini, baik bagi masyarakat pengguna maupun non-pengguna, dan bagi pelaku usaha formal itu sendiri. Bagi masyarakat, misalnya, “ekonomi berbagi” memberikan kecepatan dan kemudahan proses, selain juga berbiaya rendah atau murah.
Hanya dengan beberapa sentuhan layar gawai atau ponsel pintar yang dilengkapiglobal positioning system (GPS), orang bisa mengakses layanan pijat, antar-jemput, pesanan makanan, barang, dan jasa kebersihan.
Selain itu, variasi produknya juga luas. Setiap orang di masyarakat bisamenemukan barang apa pun yang dicari dari anggota masyarakat yang lain, seperti rumah kos, losmen tinggal ber-budget rendah, vila, pesanan hotel atau hunian lain, desain pakaian tertentu, dan lain-lain.
Selain itu, bagi pemilik sumber daya penyedia layanan, keuntungan dari ekonomi berbagi adalah efisiennya infrastruktur operasional yang hanya bermodalkan pada landasan rancangan atauplatformdaring saja dan operator penerima telefon.
Alasannya, perusahaan penyedia layanan ekonomi berbagi tidak harus memiliki aset seperti mobil atau sepeda motor yang digunakan. Mereka hanya meminjam saja dari masyarakat pemilik sehingga efisiensi struktur biaya ini akan dinikmati oleh masyarakat dalam bentuk harga yang semakin terjangkau dan manfaatnya dirasakan.
Namun, tren berbagi ini memiliki beberapa kerugian. Di antaranya, bagi masyarakat adalah inkonsistensi kualitas produk dan sulitnya untuk langsung percaya pada penyedia layanan atau problem kredibilitas. Sementara bagi penyedia sumber daya konvensional seperti perusahaan, laba mereka dapat menurun drastis karena masyarakat bisa menemukan sendiri barang mereka dari sisi masyarakat yang lain sehingga di sinilah teori Ronald Coase (pemenang Nobel Ekonomi tahun 1991) tentang mengapa perusahaan berdiri menjadi runtuh.
Karena itu, akhirnya tak heran jika sopir angkot mengamuk, padahal mereka juga melakukan hal yang sama terhadap tukang becak atau bemo di masa lalu.

UU Perdagangan Daring
Survei Pricewaterhouse Coopers (PwC) di Amerika Serikat tahun 2015 menjadi layak disimak. Dalam publikasinya bertajuk “The Sharing Economy”, sebanyak 72 persen konsumen Amerika yang disurvei menilai bahwa produk ekonomi berbagi yang mereka gunakan tidak konsisten dalam hal kualitas, sesuatu yang jamak dikeluhkan masyarakat pengguna transportasi daring.
Keluhan itu mulai dari kebersihan hingga merek mobil yang tidak sama atau kepribadian sopir dan cara mengemudi yang berbeda-beda karena memang tak ada standardisasi atau uniformisasi personel yang merupakan anggota masyarakat sendiri. Sebanyak 69 persen responden PwC mengatakan bahwa mereka sulit percaya untuk pertama kalinya sebelum pengguna lain yang ia kenal menggunakan produk tersebut.
Inilah rupanya kelemahan produk ekonomi berbagi yang selama ini kita promosikan sehari-hari itu. Akhirnya bagi negara berkembang dengan infrastruktur teknologi dan kelembagaan yang masih relatif rendah dan populasi penduduk besar seperti Indonesia, kehadiran ekonomi berbagi yang sangat cepat, masif, dan inovatif dari segi teknologi juga berbuah masalah yang membiak.
Pertama, para penyedia sumber daya sebagai pemain lama terlambat untuk berinovasi karena yang sesungguhnya dilawan oleh para pengojek tradisional dan pengemudi angkot adalah teknologi, bukan pengemudi ojek yang lain. Kedua, minimnya budaya inovasi karena rendahnya kebiasaan berhadapan dengan turbulensi. Dan ketiga, mulai tumbuhnya rasa ketidakadilan karena penyedia layanan transportasi daring ini kerap disinyalir belum berbadan hukum dan belum berkewajiban pajak karena undang-undang memang belum mengatur mereka.
DPR hendaknya segera memasukkan rancangan undang-undang perdagangan daring dalam program legislasi nasional atau mengamandemen undang-undang perdagangan yang lama, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014. Namun, jika mendesak, Presiden Joko Widodo dapat menerbitkan peraturan pemerintah (PP) atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) sebagai ?lex specialis?.

Kontributor: Anggoro Budi Nugroho, Dosen SBM ITB
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Maret 2017, di halaman 7 dengan judul “Sulitnya Ekonomi Berbagi”.